BERAU – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau menegaskan bahwa sektor ekonomi kreatif (ekraf) memiliki peran penting dalam menumbuhkan perekonomian kampung.

Kepala Bidang Usaha Jasa Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Disbudpar Berau, Nurjatiah, mengatakan bahwa subsektor yang paling potensial saat ini adalah wastra, kriya, kuliner, hingga seni pertunjukan.

Menurutnya, banyak pelaku ekraf yang telah mulai mengembangkan produk seperti tenun, batik maluang, hingga tas dan aksesori berbahan kain lokal. Meskipun demikian, ia mengakui adanya tantangan, terutama terkait bahan baku yang masih mahal.

“Ini yang sering menjadi keluhan pelaku industri. Bahan baku mahal membuat harga jual ikut tinggi,” ujarnya.

Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah daerah berupaya memastikan kehadiran UMKM Center sebagai pusat penjualan dan etalase produk lokal. Sarana ini diproyeksikan menjadi rumah bagi pengembangan subsektor wastra dan kriya.

Disbudpar sendiri lebih fokus pada subsektor ekraf yang bersinggungan langsung dengan wisata, seperti seni pertunjukan, musik, fotografi, film, hingga aplikasi digital.

“Kami berbagi tugas dengan Disperindagkop. Pelaku UMKM dibina mereka, sementara kami memperkuat potensi ekraf yang mendukung wisata,” jelasnya.

Ia menyebut, kolaborasi antar-OPD menjadi kunci agar pengembangan ekonomi kreatif tidak berjalan tumpang tindih. Kegiatan pameran, lomba, maupun promosi juga selalu memanfaatkan produk lokal agar memiliki pasar yang lebih luas.

Dalam berbagai kegiatan pariwisata, Disbudpar turut menampilkan produk ekraf sebagai bagian dari strategi promosi. Hal itu sekaligus menjadi wadah bagi para pelaku untuk memperkenalkan karya mereka kepada publik yang lebih besar.

“Potensi ekraf Berau besar sekali. Tinggal bagaimana kita membantu pemasaran dan menyiapkan SDM-nya agar kreativitas mereka bisa naik kelas,” tegasnya.

(Adv)