BERAU – Di tengah hutan karst Kelay yang megah, Kampung Merabu kembali menghidupkan salah satu tradisi tertuanya: Budaya Tuaq, warisan sakral yang memadukan kepercayaan, ritual, dan kesenian masyarakat setempat.
Tuaq sendiri berasal dari dua kata: tu—singkatan dari tulung yang berarti tolong—dan aq dari kata aqu yang berarti aku. Secara filosofis, tuaq dipahami sebagai sesuatu yang memberi kepuasan batin, kehalusan budi, dan keindahan jiwa. Sebuah konsep yang merangkum nilai spiritual dan estetika masyarakat Merabu.
Jejak Sakral Belian Danyam
Tradisi ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang belian—pemimpin adat—bernama Danyam, yang dalam bahasa lokal berarti “menyatukan.” Legenda menyebutkan Danyam mendapatkan petunjuk langsung dari penguasa alam melalui mimpi. Dari sanalah ia dipercaya memiliki kemampuan menyenangkan alam dan membantu manusia.
Dikisahkan, Belian Danyam mampu menghadirkan buah-buahan segar hanya dengan menggoyangkan sematang serinding, serta mengeluarkan madu dari papan sarang lebah hanya dengan menunjuknya. Buah dan madu itu kemudian diberikan kepada mereka yang mengalami kesulitan hidup, seperti gangguan keturunan atau penyakit yang menetap.
Ia juga diyakini dapat memohonkan rezeki serta hasil bumi untuk masa mendatang—membuat posisinya bukan sekadar pemimpin adat, tetapi penghubung antara manusia dan alam.
Generasi Muda Ambil Panggung
Momentum pelestarian budaya tuaq tahun ini terasa berbeda. Deretan penari yang tampil didominasi oleh anak-anak dan remaja Merabu. Gerak mereka luwes, mengikuti irama musik tradisi yang terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Wakil Bupati Berau Gamalis, yang hadir dalam kegiatan tersebut, memberikan apresiasi tinggi atas keterlibatan generasi muda.
“Tradisi turun-temurun di Kampung Merabu ini adalah aset budaya yang sangat berharga. Harus kita lestarikan dan kemas lebih baik agar menjadi daya tarik wisata budaya di Kabupaten Berau,” ujar Gamalis.
Ia menekankan bahwa partisipasi anak muda merupakan kunci agar tradisi seperti tuaq tidak sekadar menjadi kenangan, tetapi tumbuh menjadi identitas kultural yang melekat pada masyarakat.
Merabu dan Ancaman Kerusakan Hutan
Dalam sambutannya, Gamalis juga menyinggung kondisi lingkungan Merabu yang semakin tertekan. Kawasan yang dikenal memiliki hutan karst, sumber madu hutan, dan habitat satwa liar ini disebutnya mulai mengalami kerusakan di beberapa titik.
“Saat ini hutan kita mulai rusak. Mari kita jaga dan pertahankan bersama,” tegasnya.
Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tak bisa dipisahkan dari alam yang menjadi sumber kehidupannya.
Tradisi sebagai Identitas dan Wisata
Pelaksanaan budaya tuaq tahun ini bukan sekadar perayaan, tetapi strategi memperkuat identitas Merabu sekaligus membuka peluang wisata budaya. Di tengah naiknya minat turis terhadap ekowisata dan tradisi lokal, Merabu memiliki modal besar: lanskap alam unik, masyarakat yang masih kuat memegang adat, serta cerita sakral yang memikat.
Dengan pengemasan yang tepat, tradisi tuaq bukan hanya ritual adat, tetapi juga narasi budaya yang mampu menarik wisatawan—seperti cerita-cerita khas Nusantara yang sering mengisi kolom kebudayaan media nasional.
Kegiatan ini menegaskan satu hal: bahwa di tengah modernitas yang kian cepat, Kampung Merabu masih mampu merawat akar identitasnya. Tradisi tuaq tidak sekadar dirayakan, tetapi dihidupkan kembali—menjadi pengingat akan hubungan manusia, alam, dan spiritualitas yang saling menaut.
Jika terus dikembangkan, Merabu bukan hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga menciptakan masa depan yang kaya: baik untuk masyarakat maupun pariwisatanya. (adv)


