SAMARINDA – Jagat media sosial kembali diguncang oleh beredarnya sebuah video viral yang memperlihatkan aksi tak pantas terhadap satwa dilindungi. Dalam rekaman yang ramai beredar di TikTok itu, seorang perempuan paruh baya terlihat memegang seekor pesut dan menjadikannya layaknya mainan sambil berjoget di hadapan kamera.
Aksi tersebut langsung menuai kecaman keras dari warganet. Banyak pihak menilai tindakan itu tidak hanya tidak beretika, tetapi juga mencerminkan rendahnya kesadaran terhadap perlindungan satwa langka.
Pesut yang terlihat dalam video tersebut diduga merupakan Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris), mamalia air tawar endemik Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Satwa ini dikenal memiliki ciri khas kepala membulat tanpa moncong, tubuh berwarna abu-abu, serta sirip punggung kecil dan tumpul.

Dalam tayangan video, pesut tampak berada di daratan dan dipegang secara langsung oleh perempuan tersebut. Hingga kini, identitas pelaku, lokasi kejadian, serta kondisi pesut setelah video direkam belum dapat dipastikan.
Penelusuran awal menyebutkan video tersebut mencantumkan kredit akun TikTok @warningsih28. Namun setelah dilakukan pengecekan, video dimaksud tidak ditemukan pada akun tersebut, sehingga sumber asli dan waktu pengambilan video masih menjadi tanda tanya.
Yang membuat publik semakin geram, Pesut Mahakam saat ini berada dalam kondisi sangat terancam punah. Populasinya terus menurun akibat berbagai faktor, mulai dari rusaknya habitat, pencemaran sungai, aktivitas lalu lintas kapal, hingga interaksi manusia yang tidak bertanggung jawab.
Pesut Mahakam sendiri telah lama menjadi simbol keanekaragaman hayati Kalimantan Timur dan masuk dalam daftar satwa dilindungi. Setiap bentuk gangguan, apalagi eksploitasi untuk konten hiburan, dinilai dapat memperparah tekanan terhadap kelangsungan hidup spesies langka ini.
Warganet pun mendesak aparat dan instansi terkait untuk segera menelusuri kebenaran video tersebut serta mengambil langkah tegas jika terbukti terjadi pelanggaran terhadap aturan perlindungan satwa.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bahwa upaya konservasi tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah dan lembaga terkait, tetapi juga membutuhkan kesadaran dan tanggung jawab bersama. Pesut Mahakam bukan sekadar objek tontonan, melainkan warisan alam yang keberadaannya kian berada di ujung tanduk.(Zenn)

