TANJUNG SELOR – Badan Urusan Logistik (Bulog) Cabang Bulungan memastikan ketersediaan stok beras aman hingga akhir tahun 2026, termasuk untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang dan selama bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah.

Saat ini, stok beras di Gudang Bulog yang berlokasi di Jalan Jelarai Raya, Bulungan, Kalimantan Utara, tercatat mencapai 1.200 ton. Jumlah tersebut akan bertambah dengan adanya pasokan baru dari Jawa Timur sekitar 1.500 ton.

“Stok beras di gudang kami saat ini 1.200 ton dan akan ada tambahan sekitar 1.500 ton dari Jawa Timur. Jadi total stok beras tahun 2026 mencapai 2.700 ton,” ujar, Asisten Manajer Operasional Bulog Bulungan, Dwi Novianto, Rabu (14/1).

Dwi menjelaskan, stok tersebut diproyeksikan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di tiga wilayah, yakni Kabupaten Bulungan, Malinau, dan Kabupaten Tana Tidung (KTT).

Jenis beras yang tersedia di gudang Bulog meliputi beras medium (SPHP) dan premium, dengan kemasan 5 kilogram dan 10 kilogram. Selain beras, Bulog juga menyimpan komoditas gula.

Untuk harga, Dwi menyebutkan belum ada perubahan dibandingkan tahun sebelumnya. Beras premium kemasan 5 kilogram dijual seharga Rp77.000, sedangkan kemasan 10 kilogram Rp154.000. Sementara beras SPHP kemasan 5 kilogram dijual seharga Rp60.000.

Meski stok beras aman, Bulog mengakui masih menghadapi tantangan dalam pemenuhan kebutuhan minyak goreng. Kendala utama terletak pada tingginya biaya distribusi, terutama untuk wilayah yang jaraknya jauh dari pusat gudang.

“Kami harus menjual di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET), sementara biaya transportasi cukup tinggi. Ini yang menjadi kendala utama distribusi minyak goreng,” jelasnya.

Selain itu, distribusi ke Malinau dan KTT juga terkendala jarak tempuh dan keterbatasan mitra. Untuk beras SPHP, mitra hanya diperbolehkan mengambil maksimal dua ton, yang dinilai kurang ekonomis bagi wilayah dengan biaya angkut tinggi.

“Kalau di Bulungan jaraknya dekat, pengambilan beras masih bisa fleksibel. Tapi untuk Malinau dan KTT, mitra harus hitung betul jumlah yang diambil karena biaya angkutnya besar,” pungkas Dwi.

Bulog berharap ke depan ada solusi terkait distribusi, khususnya untuk komoditas non-beras, agar kebutuhan masyarakat di wilayah terpencil tetap dapat terpenuhi secara merata. (Lia)