Samarinda – Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Rudy Mas’ud, mendatangi Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara usai mendapat kritik dan kecaman dari berbagai organisasi kemasyarakatan.

Karena menempatkan posisi duduk Sultan Kutai Kartanegara, Adji Muhammad Arifin, dibarisan belakang dalam acara peresmian proyek kilang minyak Refinery Development Master Plan (RDMP) di kota Balikpapan, pada Senin (12/1/2026).

Banyak pihak menilai, menempatkan posisi duduk Sultan di barisan belakang, dalam acara kenegaraan dinilai tidak mencerminkan penghormatan terhadap adat, dan simbol budaya lokal

Di hadapan Sultan Kutai Kartanegara dan para petinggi Kedaton, Rudy Mas’ud menyampaikan permohonan maaf.

“Hari ini kami datang langsung ke Kedaton Kutai Kartanegara untuk melakukan tabayun sekaligus memohon masukan dan arahan terkait keprotokoleran dalam setiap kegiatan pemerintahan di Kaltim,” ujar Rudy Mas’ud kepada awak media.

Rudy menegaskan, kejadian tersebut menjadi pelajaran penting bagi Pemprov Kaltim, agar ke depan lebih cermat dan sensitif dalam mengatur tata protokol.

Terutama pada kegiatan berskala nasional yang melibatkan tokoh adat dan simbol budaya daerah.

“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Ini menjadi introspeksi bagi kami agar dapat menempatkan segala sesuatu pada tempatnya,” katanya.

Atas peristiwa itu, orang nomor satu di Kaltim itu secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada Sultan Aji Muhammad Arifin, beserta seluruh keluarga besar Kesultanan Kutai Kartanegara.

“Kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada Sultan Kutai Kartanegara atas ketidaknyamanan yang terjadi. Arahan dan masukan dari beliau menjadi pegangan penting bagi kami ke depan,” ujarnya.

Rudy juga menyampaikan peristiwa menjadi sebuah pelajaran, yang bukan hanya kepada Pemprov Kaltim beserta instansi vertikal, tetapi juga menjadi atensi khusus bagi pemerintahan pusat.