TANJUNG REDEB – Keterbatasan sarana pemadam kebakaran berbasis air menjadi perhatian serius Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Berau. Hingga kini, BPBD belum memiliki kapal pemadam atau fire boat, padahal karakter wilayah Berau dipenuhi permukiman warga di sepanjang aliran sungai.

 

Kondisi tersebut dinilai berisiko tinggi, terutama saat kebakaran terjadi di kawasan bantaran sungai yang sulit dijangkau kendaraan pemadam darat. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Berau, Nofian Hidayat, mengatakan ketiadaan armada air menjadi salah satu kendala utama dalam penanganan kebakaran.

 

“Untuk armada pemadam melalui jalur sungai, saat ini kami memang belum memiliki fire boat,” ujarnya.

 

Menurut Nofian, kondisi geografis Kabupaten Berau yang dilalui sungai-sungai besar membuat keberadaan armada pemadam air menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. Banyak permukiman padat berdiri di pinggir sungai, sementara akses jalan darat menuju lokasi tersebut kerap terbatas.

 

“Permukiman di bantaran sungai cukup rawan kebakaran. Dalam situasi tertentu, mobil pemadam tidak selalu bisa menjangkau lokasi kejadian,” jelasnya.

 

Ia mencontohkan peristiwa kebakaran yang terjadi di kawasan Milono beberapa waktu lalu. Saat itu, proses pemadaman dari sisi sungai terbantu oleh kapal pengangkut pasir yang berada di sekitar lokasi.

 

“Pada kejadian tersebut, pemadaman dari arah sungai terbantu oleh kapal pasir yang melintas,” katanya.

 

Berdasarkan data BPBD, sepanjang 2024 tercatat 54 kejadian kebakaran di Kabupaten Berau. Sementara pada 2025, hingga pertengahan tahun ini, jumlah kasus telah mencapai 49 kejadian. Meski pada 2024 dilakukan penambahan tiga unit armada pemadam, seluruhnya merupakan armada darat.

 

“Penambahan armada memang dilakukan, tetapi masih terbatas pada kendaraan darat. Armada pemadam air belum tersedia,” ungkapnya.

 

BPBD Berau menilai kebutuhan awal pengadaan fire boat sedikitnya dua unit. Armada tersebut direncanakan untuk menjangkau wilayah perkotaan serta kawasan hilir sungai.

 

“Kabupaten Berau memiliki dua daerah aliran sungai besar, yakni DAS Kelay dan DAS Segah. Idealnya satu unit melayani wilayah kota dan satu unit difokuskan ke wilayah hilir,” jelas Nofian.

 

Sejumlah kampung di kawasan hilir seperti Pegat Batumbuk, Kasai, hingga Teluk Semanting disebut sangat bergantung pada akses sungai dan masuk dalam wilayah rawan kebakaran.

 

“Sebagian besar permukiman di wilayah hilir berada di pinggir sungai. Dengan adanya fire boat, penanganan kebakaran di wilayah tersebut dapat dilakukan lebih cepat,” tambahnya.

 

Nofian menyampaikan bahwa kebutuhan pengadaan armada air tersebut telah disampaikan kepada pemerintah daerah melalui koordinasi internal di lingkungan Sekretariat Kabupaten Berau.

 

“Usulan tersebut sudah kami sampaikan kepada Asisten I dan Asisten III. Tanggapan yang disampaikan cukup positif, namun tetap perlu disesuaikan dengan regulasi serta kemampuan daerah,” pungkasnya.