Samarinda – Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-10 Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kalimantan Timur, jadi momentum strategis bagi konsolidasi internal dan evaluasi menyeluruh atas perjalanan politik partai dalam menghadapi dinamika politik ke depan.
Muswil tersebut, tidak sekadar agenda rutin organisasi, tetapi menjadi forum penting untuk melakukan muhasabah politik sekaligus merumuskan arah dan strategi perjuangan PPP di Kaltim.
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PPP Kaltim, Gamalis, menegaskan Muswil X memiliki arti krusial bagi masa depan partai.
Ia menilai forum tersebut menjadi ruang bersama untuk menilai capaian, kekurangan, serta tantangan yang dihadapi PPP, baik secara kelembagaan maupun elektoral.
“Musyawarah Wilayah ke-10 ini adalah momentum yang sangat penting dan menentukan. Bukan sekadar agenda rutin, tetapi forum strategis untuk menilai perjalanan perjuangan partai, melakukan muhasabah politik, serta merumuskan langkah PPP ke depan,” ujar Gamalis dalam sambutannya.
Ia berharap hasil Muswil mampu memperkuat peran PPP dalam menjawab dinamika kebangsaan dan demokrasi, khususnya di Kaltim dan seluruh kabupaten/kota.
Gamalis juga mengingatkan kembali sejarah lahirnya PPP sebagai partai politik Islam yang dibangun dari kesadaran umat Islam Indonesia untuk bersatu dalam satu wadah perjuangan.
Sejak awal berdiri, kata dia, PPP konsisten memperjuangkan nilai-nilai keislaman dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
“PPP sejak awal memposisikan diri sebagai partai Islam yang tetap teguh memperjuangkan nilai-nilai keislaman dalam bingkai NKRI,” pungkasnya.
Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PPP, Jabal Idris, menekankan Muswil X harus melahirkan kepengurusan wilayah yang solid, progresif, dan mampu mencetak kader-kader terbaik untuk membesarkan partai.
“Melalui Muswil ini, kami berharap terbentuk kepengurusan yang mampu melahirkan kader-kader terbaik, bekerja bersama, dan membawa PPP semakin kuat ke depan,” ujar Jabal.
Ia mengingatkan PPP merupakan salah satu partai politik tertua di Indonesia yang telah berusia hampir 53 tahun dan pernah berada pada masa kejayaan dengan keterwakilan kuat di legislatif dan eksekutif, termasuk posisi wakil presiden, menteri, hingga kepala daerah.
Namun demikian, Jabal mengakui PPP saat ini menghadapi tantangan serius akibat minimnya keterwakilan politik di berbagai level pemerintahan.
Menurutnya, ukuran kebesaran partai tidak ditentukan oleh usia atau banyaknya struktur, melainkan oleh kekuatan representasi politik yang nyata.
“Tolak ukur kebesaran partai bukan usia atau jumlah pengurus, tetapi seberapa kuat keterwakilan kita di legislatif dan eksekutif,” ujarnya.
Ia menegaskan Muswil X PPP Kaltim harus menjadi titik awal kebangkitan untuk mengembalikan posisi strategis PPP sebagaimana yang pernah diraih di masa lalu.
Jabal juga menekankan dinamika internal pasca-Muktamar telah selesai dan seluruh kader diminta untuk fokus menatap masa depan dengan semangat persatuan.
“Dinamika Muktamar sudah berlalu. Sekarang saatnya kita bersatu dan bekerja. Sesuai AD/ART, Muswil wajib dilaksanakan paling lambat tiga bulan setelah Muktamar, dan selanjutnya DPC harus bersiap melaksanakan Muscab dan Musranting,” katanya.
Menutup sambutannya, Jabal Idris menegaskan tantangan PPP ke depan semakin kompleks dan hanya dapat dihadapi melalui kerja kolektif seluruh struktur partai, guna mengembalikan kepercayaan publik serta memperkuat posisi politik PPP di tingkat daerah maupun nasional.(*)

