TANJUNG REDEB – Pemantauan hilal untuk menentukan awal 1 Ramadan 1447 Hijriah di Kabupaten Berau dilaksanakan di menara Masjid Agung Baitul Hikmah yang berlokasi di Jalan APT Pranoto, Tanjung Redeb, Selasa (17/2/2026).

Kegiatan rukyatul hilal tersebut dimulai sejak pukul 16.00 WITA. Sebelum pengamatan dilakukan, panitia terlebih dahulu menggelar rapat koordinasi bersama berbagai instansi terkait guna membahas mekanisme dan teknis pelaksanaan pemantauan.

Yusuf Arie selaku Tim Rukyat Hilal Kemenag Berau, menyampaikan hasil pengamatan bahwa secara teori hilal hanya mungkin terlihat setelah matahari terbenam. Selama matahari masih berada di atas ufuk, cahaya yang terlalu terang membuat hilal mustahil diamati.

“Kalau kita mau melihat hilal, posisi matahari harus tenggelam terlebih dahulu. Kalau matahari belum tenggelam, sinarnya terlalu cerah sehingga hilal tidak mungkin terlihat,” jelasnya selasa (17/02/2026).

Namun berdasarkan data astronomis di lokasi pemantauan, bulan justru terbenam lebih dahulu dibandingkan matahari. Selisih waktu terbenam antara bulan dan matahari tercatat sekitar minus 7 menit atau yang dikenal sebagai lag time minus 7 menit.

Artinya, bulan tenggelam sekitar tujuh menit sebelum matahari. Dengan kondisi tersebut, hilal dipastikan tidak mungkin terlihat di Kabupaten Berau pada saat pengamatan berlangsung.

Rukyatul hilal dilaksanakan setiap tanggal 29 Syakban untuk menentukan apakah keesokan harinya sudah memasuki 1 Ramadan atau masih digenapkan menjadi 30 Syakban. Jika hilal tidak terlihat di seluruh titik pemantauan di Indonesia, maka bulan Syakban disempurnakan menjadi 30 hari. Namun jika ada satu daerah yang berhasil melihat hilal dan memenuhi kriteria, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai 1 Ramadan.

Karena itu, hasil pemantauan di Berau akan tetap dilaporkan sebagai bagian dari data nasional. Penetapan resmi awal Ramadan 1447 Hijriah tetap menunggu hasil sidang isbat pemerintah berdasarkan laporan dari seluruh titik rukyat di Indonesia.