Samarinda – Kematian seorang bayi berusia enam bulan asal Batuah memicu dugaan kelalaian dalam pelayanan kesehatan.

Pihak keluarga korban, melalui kuasa hukum, mengungkap sejumlah kejanggalan dalam penanganan medis yang diterima di puskesmas setempat sebelum bayi tersebut meninggal dunia.

Kuasa hukum orang tua korban, Titus Tibayan Pakalla, menyebut bayi tersebut mulai mengalami sakit sejak Sabtu (14/2/2026).

Kondisi korban kemudian memburuk hingga akhirnya dibawa ke puskesmas pada Senin (16/2/2026) sekitar pukul 03.00 Wita.

“Saat dibawa ke puskesmas, kondisi anak sudah demam tinggi dan mengalami sesak napas,” ujarnya, Sabtu (21/2/2025).

Setibanya di puskesmas, tenaga medis disebut melakukan pemeriksaan awal, termasuk pengecekan suhu tubuh.

Petugas juga berupaya memberikan bantuan oksigen karena kondisi bayi yang dinilai semakin kritis.

Namun, menurut keterangan pihak keluarga, upaya tersebut diduga tidak berjalan optimal karena fasilitas yang tidak siap.

Tabung oksigen yang hendak digunakan dilaporkan dalam kondisi kosong.

“Berdasarkan keterangan orang tua korban, perawat menyampaikan bahwa tabung oksigen kosong, padahal di lokasi terdapat beberapa tabung,” kata Titus.

Titus bilang, bayi tersebut sempat berada di puskesmas selama sekitar 40 hingga 50 menit dengan kondisi yang terus memburuk.

Setelah itu, pihak puskesmas berencana merujuk pasien ke rumah sakit.

Namun, proses rujukan kembali terkendala karena ambulans disebut tidak dalam kondisi siap pakai.

Dalam situasi darurat, orang tua korban akhirnya memutuskan membawa anaknya sendiri menggunakan kendaraan pribadi menuju RSUD IA Moeis.

Namun, sekitar 500 meter dari puskesmas, bayi tersebut diduga telah meninggal dunia.

“Sesampainya di rumah sakit, dokter memastikan bahwa anak tersebut sudah tidak bernyawa dan diduga meninggal dalam perjalanan,” jelasnya.

Titus menegaskan, pihak keluarga menduga kuat adanya kelalaian dalam pelayanan di puskesmas, terutama terkait kesiapan fasilitas penunjang medis seperti ketersediaan oksigen.

“Ada dugaan tidak adanya pemeriksaan berkala terhadap fasilitas seperti tabung oksigen, sehingga saat dibutuhkan tidak dapat digunakan,” tegas Titus.

Atas kejadian ini, pihak keluarga menyatakan tengah mempertimbangkan langkah hukum lanjutan guna menuntut pertanggungjawaban dan mencari keadilan atas meninggalnya sang bayi.(*)