TANJUNG REDEB – Layanan hemodialisis atau cuci darah di RSUD Abdul Rivai, Berau, masih belum berjalan sepenuhnya maksimal. Sejumlah pasien dan keluarga mengeluhkan keterbatasan fasilitas yang membuat pelayanan belum bisa mengakomodir seluruh kebutuhan.

Kepala Dinas Kesehatan Berau, Lamlay Sarie, tidak menampik kondisi tersebut. Ia menyebut, unit HD memang masih dalam tahap pengembangan sehingga beberapa aspek masih perlu ditingkatkan.

Menurutnya, jumlah pasien yang membutuhkan cuci darah terus bertambah. Sementara, kesiapan sarana dan tenaga kesehatan belum sepenuhnya seimbang dengan lonjakan kebutuhan tersebut.

“Kebutuhan layanan cukup tinggi. Di sisi lain, alat dan tenaga medis yang tersedia masih terbatas. Ini yang sedang kami benahi,” katanya.

Tak hanya soal alat dan SDM, dukungan anggaran juga menjadi perhatian. Operasional layanan HD membutuhkan biaya besar, termasuk untuk perawatan mesin dan pengadaan perlengkapan medis penunjang.

Lamlay menjelaskan, karena unit ini relatif baru, proses penyempurnaan memang masih terus berjalan. Pemerintah daerah, kata dia, berupaya agar fasilitas tersebut bisa beroperasi lebih optimal dalam waktu dekat.

Koordinasi antara Dinas Kesehatan dan manajemen rumah sakit juga terus dilakukan untuk mencari solusi, termasuk kemungkinan penambahan alat serta tenaga medis terlatih.

“Kami ingin pasien di Berau bisa tertangani di sini. Harapannya tidak perlu lagi dirujuk ke luar daerah hanya untuk cuci darah,” tutupnya.(*)