TANJUNG REDEB – Film Raja Alam: Sultan Alimuddin tengah dipersiapkan. Film yang mengangkat sejarah Kesultanan di Kabupaten Berau ini digagas sendiri oleh pemuda lokal yang tergabung dalam Rabba Rimpa Bahari.

Film tersebut telah melalui tahapan riset dan penulisan naskah sebelum memasuki proses produksi. Sutradara film, Yayan Kulimpapat, menyampaikan bahwa penyusunan naskah dilakukan melalui riset mendalam agar cerita yang diangkat memiliki dasar sejarah yang kuat dan tidak menyimpang dari fakta.

“Iya, naskahnya sudah kami riset dan tulis. Kami ambil referensi dari sumber-sumber lama, jadi bukan sembarangan,” ujarnya saat ditemui pada (24/02/2026).

Terkait gagasan awal, Yayan menjelaskan bahwa ide pembuatan film lahir dari hasil rembuk bersama pihak Kesultanan Sambaliung dan telah mendapatkan dukungan positif. Proses syuting saat ini sudah berjalan hampir sekitar 5% namun masih terkendala pendanaan, meskipun pada awalnya biaya produksi ditanggung secara pribadi oleh tim.

“Kami rembuk dengan Kesultanan Sambaliung. Syuting sudah berjalan, mungkin sekitar 5%, tetapi memang masih terkendala pendanaan,” jelasnya.

Dalam hal pemeran, seluruh artis yang terlibat telah ditentukan dan mayoritas merupakan talenta lokal Berau. Tim produksi menegaskan komitmennya untuk memberdayakan sumber daya daerah dan mengangkat potensi anak muda setempat.

“Kita ini sudah ibu kota kabupaten, jadi kenapa harus impor artis dari luar? Kita punya talenta sendiri,” tambahnya.

Melalui film ini, Yayan berharap masyarakat Berau tidak melupakan sejarah daerahnya. Menurutnya, sejarah yang hanya dituturkan dari mulut ke mulut berpotensi berubah menjadi mitos apabila tidak didokumentasikan secara baik dan sistematis.

“Jangan lupa sejarah. Kalau hanya cerita dari mulut ke mulut, takutnya berubah jadi mitos. Karena itu kami ingin menjadikannya film agar seluruh masyarakat tahu ceritanya,” pesannya.

Film ini diharapkan dapat menjadi media edukasi sekaligus pengingat bagi generasi muda tentang perjalanan dan warisan sejarah Kesultanan Berau. (*F)