TANJUNG REDEB – Pemerintah Kabupaten Berau mulai memantapkan arah pembangunan ekonomi dengan menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu penopang utama pendapatan daerah. Langkah ini ditempuh sebagai strategi jangka menengah untuk mengurangi ketergantungan terhadap sektor pertambangan yang kian menunjukkan tren penurunan kontribusi.

Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, menegaskan bahwa transformasi ekonomi daerah harus segera dilakukan agar struktur perekonomian Berau lebih berkelanjutan dan tidak bergantung pada sumber daya alam yang bersifat terbatas.

Menurutnya, potensi pariwisata Berau yang besar belum sepenuhnya dikelola secara optimal. Kondisi tersebut juga menjadi perhatian Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dalam evaluasi pengelolaan potensi daerah.

“Potensi alam Berau sangat luar biasa. Namun, pemanfaatannya masih belum maksimal. Ini menjadi catatan penting sekaligus peluang besar bagi kita untuk mengembangkan pariwisata secara lebih terarah dan berkelanjutan,” ujar Sri Juniarsih saat rapat evaluasi APBD 2025/2026.

Ia menekankan bahwa penguatan sektor pariwisata membutuhkan komitmen seluruh organisasi perangkat daerah (OPD), karena pengembangannya tidak bisa berjalan parsial.

Di kesempatan terpisah, Sri Juniarsih juga menyoroti risiko ekonomi daerah apabila terus bergantung pada sektor tambang. Fluktuasi harga komoditas global dan penurunan produksi dinilai dapat berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi daerah.

“Ketergantungan terhadap tambang membuat ekonomi kita rentan. Karena itu, kita mulai mengarahkan pembangunan ke sektor yang lebih berkelanjutan, salah satunya pariwisata,” katanya.

Berdasarkan data hingga 31 Desember 2025, sektor pariwisata Kabupaten Berau mencatatkan retribusi daerah sebesar Rp578,125 juta. Pendapatan tersebut berasal dari sejumlah destinasi unggulan, seperti Museum Batiwakkal, Keraton Sambaliung, Air Panas Asin Pemapak, dan destinasi favorit Labuan Cermin.

Pemerintah daerah menilai capaian tersebut sebagai sinyal positif, sekaligus indikator awal bahwa sektor pariwisata memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang berkelanjutan.

Berbeda dengan sektor ekstraktif yang bersifat tidak terbarukan, pariwisata dinilai mampu memberikan manfaat ekonomi jangka panjang melalui pendapatan berulang serta membuka ruang diversifikasi sumber pendapatan daerah.

Sri Juniarsih menambahkan, arah pengembangan pariwisata ke depan tidak hanya berfokus pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga pada penciptaan nilai tambah di tingkat lokal.

“Jika dikelola dengan baik, pariwisata memiliki efek berganda yang besar. UMKM bergerak, ekonomi kreatif tumbuh, transportasi hidup, dan sektor jasa ikut berkembang. Dampaknya langsung dirasakan masyarakat,” jelasnya.

Ia juga menegaskan pentingnya hilirisasi pariwisata, agar aktivitas wisata tidak berhenti pada kunjungan semata, tetapi berkembang menjadi rantai ekonomi yang terintegrasi, mulai dari produk budaya, kuliner lokal, hingga jasa wisata berbasis komunitas.

Dalam konteks transisi ekonomi pasca-tambang, sektor pariwisata dipandang sebagai sektor penyangga yang mampu menyerap tenaga kerja dan menjaga stabilitas ekonomi daerah ketika kontribusi sektor ekstraktif menurun.

Saat ini, Pemkab Berau terus melakukan pembenahan tata kelola pariwisata, mulai dari peningkatan infrastruktur pendukung, penataan kawasan destinasi, penguatan promosi, hingga penyempurnaan sistem retribusi agar lebih transparan dan akuntabel.

Pemerintah daerah memastikan bahwa pariwisata akan menjadi salah satu motor utama penggerak ekonomi Berau ke depan. Dengan pengelolaan yang tepat dan kolaborasi lintas sektor, pariwisata diharapkan mampu menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.