TANJUNG SELOR – Gempa bumi berkekuatan 7,1 magnitudo yang mengguncang wilayah utara Sabah, Malaysia, pada Senin (23/2) dini hari sekitar pukul 01.57.46 WITA, turut dirasakan di sejumlah daerah di Kalimantan Utara (Kaltara).
Guncangan tersebut membuat masyarakat waspada, meski tidak dilaporkan adanya kerusakan besar di wilayah Kaltara.
Menanggapi peristiwa tersebut, Forecaster Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tanjung Selor, Sylvi Yulianti, menjelaskan bahwa gempa bumi merupakan fenomena pelepasan energi dari dalam bumi yang terjadi akibat pergerakan atau penyesuaian lempeng maupun patahan (sesar).
“Secara teknis, gempa susulan atau aftershocks sangat mungkin terjadi setelah gempa utama,” ujar Sylvi.
Ia menerangkan bahwa gempa bumi memiliki siklus perulangan. Energi yang dilepaskan saat ini suatu saat dapat kembali terakumulasi dan dilepaskan di masa mendatang.
Namun demikian, hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu memprediksi secara tepat kapan, di mana, dan berapa besar magnitudo gempa yang akan terjadi.
BMKG juga mengingatkan bahwa meskipun Kalimantan dikenal relatif lebih stabil dibandingkan Pulau Jawa dan Sumatra yang berada di zona subduksi aktif, wilayah ini tetap memiliki sejumlah patahan aktif yang berpotensi memicu aktivitas gempa.
Beberapa sesar yang berada di dekat wilayah Kalimantan Utara antara lain:
1. Sesar Maratua (Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara), salah satu sesar paling aktif di wilayah utara yang membentang di sekitar Kabupaten Berau dan perairan Maratua.
2. Sesar Mangkalihat (Kalimantan Timur), terletak di Semenanjung Mangkalihat, Kutai Timur, dan berdekatan dengan Sesar Maratua.
3. Sesar Tarakan (Kalimantan Utara), berada di wilayah Tarakan dan sekitarnya.
Keberadaan sesar-sesar tersebut menunjukkan bahwa Kalimantan tidak sepenuhnya bebas dari potensi gempa bumi.
BMKG mengimbau masyarakat Kalimantan Utara agar tetap waspada namun tidak panik. Beberapa langkah yang disarankan antara lain:
• Periksa bangunan: Pastikan kondisi rumah tetap kokoh dan tidak terdapat retakan signifikan sebelum kembali beraktivitas di dalamnya.
• Tingkatkan literasi kebencanaan: Pahami cara berlindung yang benar saat terjadi gempa
• dan jangan mudah percaya pada informasi yang belum jelas kebenarannya.
• Hindari hoaks: Pastikan informasi yang diterima berasal dari kanal resmi BMKG, termasuk aplikasi InfoBMKG dan media sosial resmi.
• Siapkan jalur evakuasi: Kenali titik aman di rumah maupun lingkungan sekitar. Saat terjadi gempa, lindungi kepala dan segera menuju tempat terbuka jika memungkinkan.
• Tetap tenang: Jangan panik, namun tetap waspada dalam setiap aktivitas.
Sylvi menegaskan pentingnya edukasi kepada masyarakat, khususnya di Kalimantan Utara, untuk meluruskan persepsi bahwa Kalimantan sepenuhnya bebas dari gempa.
Meski secara geologis lebih stabil karena tidak berada tepat di atas zona subduksi lempeng, Pulau Kalimantan tetap memiliki patahan aktif yang berpotensi menimbulkan aktivitas seismik.
Dengan pemahaman yang baik dan kesiapsiagaan yang tepat, diharapkan masyarakat dapat menghadapi potensi bencana dengan lebih tenang dan sigap. (Lia)

