NASIONAL – Dewan Perwakilan Rakyat mulai menaruh perhatian pada dugaan kolaborasi bisnis sawit antara Sinarmas Group dan Musim Mas Group yang disebut berkontribusi terhadap kerusakan hutan di Aceh. Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) menilai relasi dua raksasa sawit itu menjadi bagian dari mata rantai bencana ekologis di Sumatera.

Anggota Komisi IV DPR dari Fraksi Partai NasDem, Rajiv, mengatakan pihaknya akan mengecek temuan tersebut. “Nanti kami di Komisi IV akan mengecek,” ujar Rajiv di Jakarta, Sabtu, 24 Januari 2026. Soal sanksi, Rajiv menyebut semuanya akan mengacu pada ketentuan hukum yang berlaku.

Koordinator Nasional Jatam Melky Nahar menyebut kongsi bisnis antara Sinarmas—yang kini dikendalikan Franky Widjaja—dan Musim Mas milik Bachtiar Karim terhubung melalui rantai pasok sawit. Menurut dia, pilar usaha sawit Sinarmas, Golden Agri-Resources (GAR), membeli tandan buah segar dari perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Aceh, termasuk dari kelompok usaha Musim Mas.

“Kami menemukan keterhubungan itu melalui rantai pasok GAR dan PT SMART Tbk,” kata Melky. PT SMART Tbk merupakan anak usaha GAR yang menjadi salah satu pemain utama industri sawit nasional.

Dalam laporan bertajuk Katastrofe Sumatera: Jejak Oligarki di Hulu DAS dan Zona Rawan Bencana, Jatam memetakan keterkaitan rantai pasok Sinarmas di wilayah sekitar Kawasan Ekosistem Leuser dan Suaka Margasatwa Rawa Singkil. Dua kawasan ini berulang kali dikaitkan dengan deforestasi, banjir, dan longsor.

Musim Mas, menurut Jatam, juga beroperasi di Aceh Tamiang, Aceh Singkil, Aceh Timur, dan Kota Subulussalam—wilayah yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami banjir besar.

Nama Sinarmas dan Musim Mas sebelumnya muncul dalam laporan Skandal Bom Karbon yang dirilis Rainforest Action Network (RAN) pada September 2022. Dalam laporan itu, Sinarmas disebut gagal melindungi hutan di Rawa Singkil. Salah satu pemasok SMART/GAR terbukti membuka dan mengelola perkebunan sawit ilegal di dalam kawasan suaka margasatwa tersebut.

RAN juga mencatat Musim Mas sebagai salah satu produsen sawit yang harus bertanggung jawab atas rusaknya bentang alam Rawa Singkil.

Musim Mas mengklaim menjalankan kerja sama dengan Earthworm Foundation melalui Aceh Landscape Program, yang disebut bertujuan membantu pemerintah daerah dalam perencanaan spasial serta perlindungan kawasan bernilai konservasi tinggi dan cadangan karbon tinggi.

Namun Jatam menilai program tersebut tidak sebanding dengan dampak kerusakan di lapangan. “Di satu sisi bicara keberlanjutan, di sisi lain rantai pasoknya tetap berasal dari wilayah yang dirusak,” kata Melky.

Bagi Jatam, bencana ekologis di Sumatera bukan semata peristiwa alam, melainkan konsekuensi dari praktik ekstraksi sumber daya yang dibiarkan berlangsung lama. Janji DPR untuk menelusuri temuan ini kini menjadi ujian keseriusan negara menindak aktor-aktor besar di industri sawit.