Berau – Dinas Kesehatan Kabupaten Berau memaparkan sejumlah tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan layanan RSUD Abdul Rivai, khususnya terkait pembiayaan dan tingginya angka rujukan pasien ke luar daerah.

Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar pada Senin siang (13/4/2026), Kepala Dinas Kesehatan Berau, Lamlay Sarie, menjelaskan bahwa pihaknya selama ini terus berupaya mendukung operasional RSUD Abdul Rivai. Namun, kondisi keuangan rumah sakit disebut menurun.

Menurutnya, penurunan pemasukan tidak sebanding dengan peningkatan belanja operasional. Hal ini diperparah dengan banyaknya pasien yang dirujuk ke luar daerah, sehingga potensi pendapatan rumah sakit tidak maksimal.

“Secara logika, ketika jumlah pasien meningkat, seharusnya pendapatan juga ikut naik. Tapi yang terjadi tidak demikian,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, kondisi ini juga dipengaruhi oleh penerapan program jaminan kesehatan masyarakat. Saat ini, Kabupaten Berau telah mencapai Universal Health Coverage (UHC), dengan tingkat kepesertaan BPJS Kesehatan di atas 86 persen dan terus menuju 90 persen.

Dengan kondisi tersebut, hampir seluruh pasien yang datang ke fasilitas kesehatan telah tercover BPJS. Artinya, sumber pendapatan utama rumah sakit seharusnya berasal dari BPJS, bukan lagi dari pasien umum atau perusahaan.

“Di banyak daerah lain, kontribusi pendapatan dari BPJS bahkan bisa mencapai minimal 70 persen,” jelasnya.

Namun demikian, sistem pembayaran BPJS memiliki standar tarif tersendiri yang diatur oleh Kementerian Kesehatan, sehingga rumah sakit tidak dapat secara bebas menaikkan biaya layanan, termasuk untuk pelayanan poli maupun tindakan medis lainnya.

Lamlay juga menyoroti segmen pasien non-BPJS, khususnya kategori VIP, yang justru cenderung memilih berobat ke luar daerah. Hal ini menyebabkan potensi pemasukan dari segmen tersebut tidak berkembang di Berau.

“Kalau dilihat dari pola yang ada, pasien dengan kemampuan lebih banyak berobat ke luar daerah, sehingga potensi pendapatan itu hilang,” ungkapnya.

Di sisi lain, ia menyebut bahwa salah satu unit yang berpotensi memberikan keuntungan bagi rumah sakit adalah instalasi farmasi atau penyediaan obat. Meski demikian, pelayanan tetap harus berjalan optimal demi memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Instalasi farmasi memang menjadi salah satu sumber pendapatan. Tapi pelayanan tetap harus dibuka karena itu kebutuhan dasar,” tambahnya.(*)