Samarinda– Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kalimantan Timur memproyeksikan kenaikan harga bahan pokok di Kalimantan Timur sebesar 3 hingga 5 persen menjelang Idulfitri 2026. Meski demikian, ketersediaan stok dipastikan mencukupi kebutuhan masyarakat.

Kepala Disperindagkop UKM Kaltim, Heni Purwaningsih, mengatakan tren kenaikan harga menjelang Lebaran merupakan pola tahunan dan masih dalam batas wajar.

“Setiap tahun selalu ada kenaikan, tapi tidak signifikan. Saat ini masih relatif terjangkau,” ujarnya di Samarinda.

Sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga antara lain daging sapi, cabai, dan bawang merah. Kenaikan ini dipicu tingginya

ketergantungan pasokan dari luar daerah.

Heni menyebut sekitar 70 hingga 80 persen kebutuhan bahan pokok di Kaltim masih dipasok dari provinsi lain. Untuk daging sapi, suplai utama berasal dari Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat.

Sementara cabai didatangkan dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Pulau Jawa.

Meski bergantung pada pasokan luar, ia memastikan distribusi berjalan lancar tanpa kendala.

“Stok kita aman sampai Idulfitri, tidak ada hambatan distribusi yang memengaruhi ketersediaan,” tegasnya.

Untuk menekan ketergantungan tersebut, Pemprov Kaltim tengah mendorong program kemandirian pangan.

Salah satunya melalui pengembangan Desa Korporasi Ternak yang bertujuan meningkatkan kapasitas peternak lokal.

Selain itu, bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), pemerintah juga menggencarkan gerakan menanam cabai di pekarangan rumah serta pembinaan lahan pertanian produktif di seluruh kabupaten/kota.

Upaya ini diharapkan mampu menjaga stabilitas harga sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah dalam jangka panjang.(*)