TANJUNG REDEB – Tren penggunaan gadget yang mendominasi keseharian anak-anak di bawah umur kini berada pada titik yang mengkhawatirkan. Tanpa pantauan khusus dari orang tua, ketergantungan pada perangkat digital ini dipastikan dapat mengganggu fokus, kesehatan mental, hingga merusak masa depan generasi muda di Kabupaten Berau, Selasa (10/3).
Buku yang seharusnya menjadi pedoman utama untuk melatih fungsi otak dan perilaku, kini perlahan mulai ditinggalkan dan hanya menjadi pajangan semata. Fenomena ini memicu kekhawatiran mendalam terhadap penurunan minat baca dan kualitas kecerdasan anak secara jangka panjang.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Berau, Yudha Budisantosa, mengakui bahwa perkembangan zaman membawa tantangan besar. Saat ini, sumber informasi sangat mudah diakses melalui berbagai platform digital, tidak lagi terpaku pada buku fisik.
“Dalam beberapa tahun ini kami terus beradaptasi. Kami menyediakan buku digital (e-book) serta layanan internet dan perangkat komputer bagi pengunjung yang ingin mencari data secara digital,” ujar Yudha
Meskipun akses digital tersedia, Yudha menegaskan bahwa buku tetap menjadi sumber informasi yang paling akurat dan mendalam. Menurutnya, kecerdasan seseorang bergantung pada bagaimana mereka memilih informasi. Informasi di internet seringkali bersifat dangkal, berbeda dengan literasi buku yang menawarkan pemahaman komprehensif.
Yudha menekankan bahwa aktif membaca buku memberikan stimulasi otak yang jauh berbeda dibandingkan sekadar menatap layar ponsel. Dispusip Berau bahkan sempat mengadakan talkshow yang membahas bahaya penggunaan handphone bagi anak di bawah usia 16 tahun.
“Perpustakaan tidak boleh dikurangi perannya. Mustahil seseorang bisa mendapatkan ilmu yang mendetail dan memadai jika hanya mengandalkan potongan informasi dari internet saja,” tegasnya.
Lebih jauh, ia memperingatkan dampak kesehatan fisik dan kognitif yang nyata. Penggunaan gadget berlebihan dapat merusak mata dan memicu fenomena Brainrot (pembusukan otak) akibat paparan radiasi dan konten pasif secara terus-menerus. Anak-anak yang belum memahami bahaya ini sering kali terjebak dalam lingkaran kecanduan yang sulit dihentikan.
Selain dampak fisik, kecanduan gadget juga berdampak pada kemampuan sosialisasi. Anak-anak yang terpapar gadget secara berlebihan cenderung menjadi pasif dan memiliki gaya bahasa yang berbeda dari anak-anak pada umumnya karena kurangnya interaksi nyata.
“Sifatnya pasif, hanya menikmati saja dan terpaku terus-menerus. Dampaknya melalaikan banyak hal, termasuk interaksi sosial. Anak menjadi susah berhenti dan kehilangan kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya,” pungkas Yudha.
Sebagai upaya menekan tren negatif ini, Dispusip Berau rutin menggelar lomba literasi mulai dari tingkat TK hingga Perguruan Tinggi setiap tahunnya. Hal ini dilakukan sebagai langkah nyata untuk meningkatkan kembali kegemaran membaca dan menyelamatkan generasi muda Berau dari dampak buruk digitalisasi yang tidak terawasi. (akti)

