TERNATE – Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah Pantai Barat Daya Pulau Batang Dua, Ternate, Maluku Utara, Kamis (2/4/2026) pagi, tidak hanya memicu peringatan tsunami, tetapi juga menimbulkan kerusakan bangunan hingga korban jiwa di sejumlah wilayah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa terjadi pukul 05.48 WIB dengan pusat di laut, sekitar 129 kilometer tenggara Bitung, Sulawesi Utara, pada kedalaman 33 kilometer.
Plt. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Dr. Rahmat Triyono, menjelaskan gempa ini tergolong dangkal dan dipicu deformasi kerak bumi.
“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa yang terjadi merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas deformasi kerak bumi dengan mekanisme pergerakan naik atau thrust fault,” ujarnya.
Guncangan kuat yang terjadi membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah. Di Ternate, getaran mencapai skala V–VI MMI, menyebabkan sebagian warga mengungsi ke tempat lebih tinggi setelah merasakan getaran hebat.
Dampak kerusakan dilaporkan terjadi di sejumlah titik. Kepala BPBD Kota Ternate, Sutopo Abdullah, menyebutkan beberapa rumah warga mengalami kerusakan akibat guncangan.
“Untuk sementara, ada beberapa rumah warga yang mengalami kerusakan, termasuk bangunan tempat ibadah. Tim masih melakukan pendataan di lapangan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kerusakan paling banyak terjadi di wilayah yang berada dekat pusat guncangan.
“Bangunan yang terdampak mayoritas mengalami kerusakan ringan hingga sedang, namun ada juga yang dilaporkan rusak berat,” tambahnya.
Selain di Ternate, dampak gempa juga dirasakan hingga Sulawesi Utara. Di Kota Manado, sebuah bangunan dilaporkan runtuh saat gempa terjadi dan menimbulkan korban jiwa.
Kapolresta Manado, Kombes Pol Julianto Sirait, membenarkan adanya korban akibat runtuhnya bangunan tersebut.
“Ada satu korban meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan bangunan saat gempa terjadi. Saat ini korban sudah dievakuasi,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala BPBD Sulawesi Utara, Johanis Tumbelaka, menyebutkan bahwa tim gabungan masih melakukan asesmen di berbagai titik terdampak.
“Kami masih melakukan pendataan secara menyeluruh terkait dampak gempa, baik kerusakan bangunan maupun potensi korban lainnya,” jelasnya.
BMKG menetapkan status SIAGA tsunami untuk sejumlah wilayah, termasuk Ternate, Halmahera, Tidore, Bitung, dan sebagian wilayah Minahasa. Sementara status WASPADA diberlakukan di beberapa wilayah lain seperti Kepulauan Sangihe dan Bolaang Mongondow.
Rahmat Triyono menegaskan bahwa hasil pemodelan menunjukkan adanya potensi tsunami di wilayah tersebut.
“Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi ini berpotensi tsunami, sehingga masyarakat di wilayah pesisir diminta tetap waspada,” tegasnya.
Pemantauan alat pengukur muka air laut (tide gauge) juga mencatat adanya kenaikan permukaan air di sejumlah titik, seperti di Halmahera Barat, Bitung, hingga Minahasa Utara dengan ketinggian mencapai 0,75 meter.
Hingga pukul 06.50 WIB, BMKG mencatat sedikitnya 11 gempa susulan dengan magnitudo terbesar mencapai M5,5. Aktivitas ini turut memperkuat kekhawatiran warga di wilayah terdampak.
Saat ini, proses evakuasi dan pendataan masih terus dilakukan oleh tim gabungan. Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus memantau perkembangan situasi, terutama di wilayah pesisir dan kawasan dengan tingkat kerusakan paling parah.

