JAKARTA, IT-NEWS – Lonjakan harga bahan baku plastik mulai mengguncang industri hilir dan berpotensi memicu kenaikan harga berbagai barang konsumsi. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran luas, baik di kalangan pelaku usaha maupun masyarakat sebagai konsumen akhir.

Kenaikan harga yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir disebut-sebut tidak lepas dari ketidakpastian global, termasuk eskalasi geopolitik yang berdampak langsung pada rantai pasok bahan baku. Akibatnya, biaya produksi di sektor industri hilir ikut terdongkrak dan berisiko dibebankan kepada konsumen melalui kenaikan harga produk di pasaran.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Plastik Hilir Indonesia (Aphindo) Henry Chavelier mengatakan kondisi ketidakpastian global, termasuk eskalasi geopolitik di Timur Tengah, sangat memengaruhi rantai pasok dan harga bahan baku plastik dilansir pada tribunnews.com.

Menurut dia, dampak kenaikan harga ini tidak hanya dirasakan oleh pelaku industri, tetapi juga akan berimbas pada masyarakat sebagai konsumen akhir.

“Lakukanlah penghematan-penghematan penggunaan kantong plastik atau kita kembali seperti dulu lagi. Jadi seperti botol aqua jangan dibuang kita pakai untuk yang lain,” tuturnya dilansir dari Tribunnews.com, Minggu (5/4/2026).

Aphindo menjelaskan, setiap kemasan plastik yang digunakan dalam produk memiliki komponen biaya tersendiri yang secara tidak langsung memengaruhi harga jual di pasaran.

Karena itu, pengurangan penggunaan plastik dinilai dapat menjadi salah satu langkah untuk menekan pengeluaran masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini.

“Kalau kita beli minuman dengan kemasan itu, kemasannya sendiri sudah ada cost. Terus kita beli makanan yang kemasan dibuat dari plastik, ini juga sudah ada cost untuk menambah harga pangan atau minuman yang dijual,” jelasnya.

Henry juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dinamika global yang dapat memperburuk kondisi ekonomi dalam waktu dekat.

“Kita harus mengencangkan ikat pinggang karena kita tidak tahu ke depannya bagaimana,” ucap Henry saat dihubungi.

Di sisi lain, Aphindo meminta pemerintah segera menghadirkan kebijakan yang dapat meringankan beban industri, baik di sektor hulu maupun hilir, agar rantai produksi tetap berjalan stabil.

Dukungan tersebut dinilai penting untuk menahan laju kenaikan harga agar tidak semakin membebani masyarakat.

“Untuk pemerintah tolong berikanlah kebijakan kepada industri, baik hulu maupun hilir maupun industri-industri lainnya,” ungkap Henry.

Aphindo pun mengusulkan agar pemerintah tidak menambah hambatan tarif bagi industri. Sebaliknya, pemerintah diharapkan memberikan insentif seperti penundaan pajak, pengurangan pajak penghasilan (PPh) badan, hingga kebijakan tax holiday dalam kondisi yang dianggap force majeure.