Tanjung Redeb – Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Berau, Abdul Majied, memastikan ketersediaan ikan di Berau masih dalam kondisi aman meski harga kerap berfluktuasi akibat pengaruh musim penangkapan.

 

Menurutnya, aktivitas penangkapan ikan memiliki pola musiman. Pada periode tertentu hasil tangkapan melimpah, sementara di waktu lain pasokan menurun. Namun kondisi tersebut masih bisa dikendalikan dalam setahun.

 

“Pengangkapan ikan itu ada musimnya. Tapi dalam setahun sebenarnya masih bisa kita kendalikan,” ujar Abdul Majied.

 

Ia menjelaskan, saat musim tangkap melimpah, produksi ikan di Berau bisa mencapai 7 hingga 10 ton per hari. Sementara daya serap konsumsi masyarakat lokal hanya sekitar 4 hingga 5 ton. Kelebihan produksi tersebut kemudian dikirim ke daerah lain seperti Kutai Timur, Bontang, dan wilayah sekitarnya.

 

“Karena ikan ini cepat rusak, jadi kalau tidak cepat terserap pasar, harus segera dikirim ke luar daerah,” jelasnya.

 

Abdul Majied menambahkan, kondisi harga ikan yang naik di pasaran umumnya terjadi saat pasokan kosong atau hasil tangkapan menurun. Sebaliknya, ketika terjadi “banjir ikan”, harga justru turun cukup signifikan.

 

“Harga ikan layang di pasar biasanya berkisar Rp20 ribu sampai Rp30 ribu per kilogram. Kalau pas kosong bisa naik sampai Rp50 ribu bahkan Rp55 ribu. Tapi kalau melimpah, harganya bisa jauh lebih murah,” katanya.

 

Fluktuasi harga tersebut juga berdampak pada angka inflasi daerah. Saat pasokan ikan laut berkurang dan harga naik, sektor perikanan kerap menjadi salah satu penyumbang inflasi. Untuk mengantisipasi hal itu, Pemkab Berau mendorong pemanfaatan ikan air tawar sebagai alternatif konsumsi.

 

“Kita dorong ikan budidaya seperti patin, nila, lele, dan ikan air tawar lainnya untuk menutup kekurangan pasokan ikan laut,” ujarnya.

 

Selain itu, Abdul Majied menyebut pengembangan budidaya ikan tidak harus selalu melalui kolam besar. Masyarakat juga bisa memanfaatkan kolam terpal hingga wadah sederhana seperti gentong sebagai solusi meningkatkan produksi.

 

Ia mengakui sebagian besar masyarakat Berau masih lebih menyukai ikan laut dibandingkan ikan budidaya. Namun diversifikasi konsumsi dinilai penting untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan.

 

Di sisi lain, ia mengungkapkan banyak hasil tangkapan nelayan Berau dijual ke luar daerah karena sistem pembayaran yang lebih menguntungkan. Di luar daerah, ikan dibayar tunai, sementara di pasar lokal pembayaran sering tertunda.

 

“Kalau kirim ke luar daerah, begitu barang ada langsung dibayar. Kalau di pasar lokal, kadang harus nunggu dulu baru dibayar,” jelasnya.

 

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi ketersediaan ikan di pasar lokal. Meski demikian, Abdul Majied menegaskan pemerintah daerah terus berupaya menjaga keseimbangan antara produksi, distribusi, dan konsumsi agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri. (dvn)