TANJUNG SELOR — Sosok muda itu berdiri penuh percaya diri usai dilantik. Di usianya yang baru menginjak 28 tahun, Herman Efendi resmi mencatat sejarah sebagai Kepala Desa termuda di Kabupaten Bulungan.
Ia dilantik langsung oleh Bupati Bulungan, Syarwani, pada Jumat (6/2/2026), bersama para kades terpilih hasil Pilkades 2025.
Lahir pada 1 Juli 1997, Herman menjadi satu-satunya kepala desa termuda di Bulungan. Namun usia muda tak membuatnya ragu melangkah.
Justru sebaliknya, ia datang membawa mimpi besar: menjadikan desanya sebagai lumbung pangan dan melahirkan petani-petani milenial.
Desa Mara Hilir, yang kini ia pimpin, menurut Herman memiliki potensi pertanian yang sangat menjanjikan. Lahan yang subur dan semangat masyarakat menjadi modal utama untuk membangun ketahanan pangan desa.
“Desa saya punya potensi besar di sektor pertanian. Ke depan, insyaallah kita akan memajukan petani, terutama melibatkan anak-anak muda sebagai petani milenial,” ujar Herman saat ditemui awak media, Sabtu (7/2).
Sebagai alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Herman meyakini bahwa kepemimpinan tidak ditentukan oleh usia, melainkan oleh keberanian, komitmen, dan kesiapan menjalani proses.
Menjadi yang termuda di antara para kepala desa lain tak menyurutkan semangatnya dalam menggerakkan roda pemerintahan desa.
Baginya, usia bukan tolok ukur kualitas seseorang dalam mengemban amanah, baik di pemerintahan maupun di sektor lain.
“Yang paling penting itu keberanian menghadapi proses. Usia muda atau tua, semua punya kesempatan yang sama untuk berkontribusi,” tegasnya.
Dengan postur tinggi semampai dan gaya bicara lugas, Herman juga menyimpan pesan khusus bagi generasi muda di luar sana. Ia berharap apa yang diraihnya hari ini bisa menjadi inspirasi.
“Untuk anak-anak muda, teruslah berkarya dan berproses. Tanamkan kebaikan, karena kebaikan adalah investasi masa depan yang panjang perjalanannya,” pesannya.
Ia menutup dengan optimisme: pembangunan desa adalah kerja bersama, lintas generasi. Tua dan muda harus berjalan seiring demi kemajuan desa.
“Hari ini usia bukan lagi ukuran kualitas. Yang terpenting adalah pengalaman, kemauan, dan niat bersama untuk membangun desa,” pungkas Herman. (Lia)

