TANJUNG SELOR – Suasana Ibu Kota Kalimantan Utara, Tanjung Selor, memanas saat puluhan buruh dari berbagai daerah seperti Tarakan, Malinau, dan Bulungan turun ke jalan dalam aksi unjuk rasa nasional, Kamis (28/8).
Aksi ini berlangsung dramatis. Lagu kebangsaan Indonesia Raya menggema, dan dua ban dibakar sebagai simbol perlawanan di tengah teriknya panas Bumi Benuanta.
Demo dimulai di depan Kantor Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) pukul 09.00 WITA, dan berlanjut hingga ke Kantor Gubernur Kaltara sekitar pukul 13.00 hingga 15.00 WITA. Dalam orasi penuh semangat, buruh menyuarakan beberapa tuntutan utama, mulai dari penghapusan outsourcing, penolakan upah murah, pembentukan Satgas PHK, hingga perlindungan pekerja hiburan malam.
Joko Supriyadi, Ketua Exco Partai Buruh Kaltara, menegaskan bahwa demo ini bukan sekadar seremonial tahunan. “Buruh di Kaltara masih jadi penonton di daerah sendiri. Banyak yang di-PHK tanpa dasar hukum, tanpa kontrak kerja. Ini harus dihentikan!” teriak Joko dengan lantang.
Salah satu tuntutan yang paling mendesak adalah pembentukan Satgas PHK, yang menurut para buruh hingga kini belum direalisasikan. Mereka juga menyoroti absennya regulasi untuk melindungi pekerja ojek online dan perempuan yang bekerja di tempat hiburan malam (THM).
Massa akhirnya diterima oleh Pj. Sekretaris Provinsi Kaltara, Bustan. Ia menyatakan bahwa semua aspirasi buruh akan ditampung dan dipilah sesuai kewenangan baik tingkat kabupaten, provinsi, maupun pusat.
“Kami akan tindak lanjuti dalam rapat bersama dengan dinas teknis minggu ini. Tapi perlu dicermati mana yang menjadi kewenangan kami dan mana yang bukan,” ujar Bustan singkat.
Meski belum ada keputusan konkret, aksi ini telah menggugah atensi publik dan menjadi penanda bahwa suara buruh di Kaltara semakin menggema dan tak bisa lagi diabaikan. (Lia)