TANJUNG SELOR – Insiden pesawat kargo yang menewaskan seorang pilot dan sempat mengguncang proses distribusi bahan bakar minyak (BBM) ke wilayah perbatasan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, menjadi perhatian serius berbagai pihak.

Di tengah duka dan kekhawatiran masyarakat, PT Pertamina Patra Niaga memastikan pasokan BBM dalam program Satu Harga ke wilayah tersebut tetap aman dan berjalan normal.

Peristiwa nahas yang terjadi dalam rangkaian distribusi energi ke daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) itu memunculkan pertanyaan besar mengenai keamanan dan keberlanjutan jalur logistik energi nasional.

Krayan sendiri dikenal sebagai salah satu wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia yang memiliki akses transportasi terbatas dan sangat bergantung pada moda udara untuk distribusi barang kebutuhan pokok, termasuk BBM.

Meski sempat muncul kekhawatiran akan terhambatnya suplai akibat insiden tersebut, Pertamina menegaskan bahwa proses pengiriman tetap berjalan sesuai rencana.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Edi Mangun, menyampaikan bahwa pengiriman BBM Satu Harga pada Sabtu (21/2) berhasil dilaksanakan menggunakan armada pesawat Air Tractor AT-802.

Pesawat tersebut digunakan untuk mendistribusikan produk Pertalite ke SPBU 3T di Krayan.

“Berkat koordinasi dan best effort seluruh tim serta sinergi Pertamina Patra Niaga dan Patra Logistik, proses administrasi maupun operasional pengiriman berjalan lancar sehingga suplai BBM ke Krayan tetap terjaga,” ujar Edi, Minggu (22/2).

Menurutnya, stok BBM di Krayan saat ini dalam kondisi aman dan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan seperti biasa. Ia meminta masyarakat tidak panik karena distribusi tetap dikawal secara ketat dan dilakukan monitoring berkala.

Program BBM Satu Harga merupakan kebijakan strategis pemerintah yang bertujuan menghadirkan harga BBM yang setara antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil.

Selama bertahun-tahun, disparitas harga di wilayah 3T menjadi persoalan klasik akibat tingginya biaya distribusi dan keterbatasan infrastruktur.

Krayan menjadi salah satu wilayah yang merasakan langsung manfaat program ini. Tanpa skema subsidi distribusi dan dukungan logistik khusus, harga BBM di wilayah tersebut bisa melambung jauh di atas harga nasional.

Karena itu, kelancaran distribusi bukan sekadar persoalan pasokan, melainkan menyangkut stabilitas ekonomi dan aktivitas masyarakat perbatasan.

Namun, insiden pesawat kargo tersebut juga menjadi alarm keras. Distribusi energi ke wilayah 3T masih sangat bergantung pada jalur udara dengan risiko tinggi, baik dari sisi cuaca ekstrem, keterbatasan landasan, hingga faktor keselamatan penerbangan.

Ketergantungan ini menunjukkan bahwa persoalan akses dan infrastruktur di wilayah perbatasan belum sepenuhnya teratasi.

Pertamina menyatakan akan terus melakukan monitoring dan koordinasi bersama seluruh pihak terkait guna memastikan distribusi energi berjalan optimal, andal, dan berkelanjutan.

Selain itu, perusahaan juga menyiapkan langkah mitigasi apabila terjadi kendala di lapangan.

“Kami akan terus memastikan bahwa BBM Satu Harga tetap terdistribusi dengan lancar di wilayah 3T dan juga memastikan mitigasi jika ada kendala,” tegas Edi.

Meski demikian, peristiwa ini seharusnya tidak berhenti pada pernyataan jaminan stok aman. Pemerintah pusat dan daerah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem distribusi logistik di wilayah 3T, termasuk standar keselamatan, kesiapan armada, dan alternatif jalur distribusi.

Kalimantan Utara sebagai provinsi termuda di Indonesia memiliki tantangan geografis yang tidak ringan. Wilayah seperti Krayan berada jauh dari pusat distribusi utama dan minim akses darat.

Tanpa perbaikan infrastruktur jangka panjang baik jalan, bandara perintis, maupun moda transportasi alternatif ketergantungan pada pengiriman udara akan terus menjadi titik rawan.

Pasokan energi di wilayah perbatasan bukan hanya isu ekonomi, melainkan juga menyangkut kedaulatan negara.

Ketersediaan BBM yang stabil mendukung aktivitas masyarakat, pelayanan publik, hingga pertahanan dan keamanan. Ketika distribusi terganggu, dampaknya bisa meluas ke berbagai sektor.

Di sisi lain, keberlanjutan Program BBM Satu Harga menjadi simbol kehadiran negara di daerah terluar. Komitmen tersebut perlu diimbangi dengan perhatian serius terhadap aspek keselamatan dan keberlanjutan distribusi.

Dengan sinergi antara BUMN, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya, pasokan energi untuk masyarakat Krayan saat ini tetap terjaga.

Namun, insiden ini menjadi pengingat bahwa pembangunan infrastruktur dan sistem logistik yang tangguh di wilayah 3T masih menjadi pekerjaan rumah besar yang tidak bisa ditunda. (Lia)