TANJUNG REDEB – Kebijakan pemasangan portal otomatis di Pasar Sanggam Adji Dilayas menuai protes keras dari para pedagang. Fasilitas yang diharapkan dapat menertibkan kendaraan tersebut justru dinilai menjadi beban ekonomi baru yang memicu penurunan jumlah pengunjung (27/2).
Salah seorang pedagang ayam menyampaikan bahwa pihak pedagang tidak pernah dimintai persetujuan terkait pengoperasian portal tersebut sejak tahun lalu. Menurutnya, sistem berbayar setiap kali masuk sangat memberatkan operasional angkutan logistik.
“Kami tidak ada yang setuju. Setiap masuk harus bayar, tentu ini memberatkan sopir angkut yang harus bolak-balik mengirim barang,” ujarnya.
Ia membandingkan sistem saat ini dengan aturan sebelumnya. Dahulu, pedagang atau pengunjung cukup membayar karcis satu kali untuk akses keluar-masuk seharian. Namun, sistem portal saat ini memaksa pengguna membayar setiap kali melewati gerbang.
“Dulu bayar sekali saja sudah dapat karcis yang bisa dipakai bolak-balik. Sekarang tidak bisa lagi, ini tekanan bagi kami dan pengunjung pasar,” pungkasnya.
Ketegangan sempat memuncak saat hari pertama pengoperasian portal. Beberapa pedagang yang merasa aspirasinya tidak didengar sempat merencanakan aksi demonstrasi hingga tindakan anarkis berupa perusakan fasilitas portal.
Akibat situasi yang tidak kondusif, sistem portal otomatis di Pasar Sanggam Adji Dilayas kini dihentikan sementara dan dialihkan kembali ke sistem manual menggunakan karcis yang dijaga oleh petugas gerbang.
Masyarakat kini mempertanyakan transparansi dinas terkait mengenai sosialisasi dan persetujuan penghuni pasar sebelum kebijakan ini diterapkan. Kondisi pasar yang kian sepi akibat aturan ini menuntut solusi cepat dari pemerintah daerah.
Sejak berita ini diturunkan, para pedagang mendesak agar masalah ini menjadi prioritas pembahasan pemerintah demi menemukan jalan tengah yang tidak mencekik pelaku usaha kecil. Hingga saat ini belum ada tanggapan resmi dari dinas terkait mengenai polemik yang terjadi di Pasar Sanggam Adji Dilayas tersebut. (akti)

