Tanjung Redeb – Pembangunan gedung Balai Latihan Kerja (BLK) Berau dipastikan rampung pada akhir 2025. Proyek strategis di sektor ketenagakerjaan ini digadang-gadang menjadi pusat peningkatan keterampilan sumber daya manusia (SDM) lokal, termasuk para pemuda dari kampung-kampung di seluruh wilayah Berau, untuk menjawab kebutuhan industri yang terus berkembang.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Berau, Zulkifli Azhari, memastikan pembangunan fisik gedung BLK berjalan sesuai jadwal dan ditargetkan selesai pada Desember tahun ini.

“Secara fisik, bangunannya selesai akhir 2025. Pembangunan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan,” ujarnya.
Keberadaan BLK dianggap sangat penting dalam mendukung kesiapan tenaga kerja lokal, terutama di tengah meningkatnya aktivitas investasi dan hadirnya perusahaan-perusahaan baru. Tidak hanya menyasar pemuda kota, fasilitas ini juga diharapkan membuka peluang bagi warga kampung di kecamatan-kecamatan seperti Sambaliung, Tanjung Batu, Kelay, Tabalar, dan pesisir selatan yang selama ini terkendala akses pelatihan.

Zulkifli menegaskan, BLK dirancang sebagai wadah pelatihan keterampilan kerja—mulai dari operator alat berat, mekanik, hingga kejuruan lain yang banyak dibutuhkan industri. Dengan adanya BLK, pemuda dari kampung-kampung yang sebelumnya kesulitan mengikuti pelatihan ke luar daerah bisa memperoleh kesempatan yang sama tanpa harus meninggalkan keluarga atau menanggung biaya tambahan.

“Kita ingin BLK ini menjadi pusat pelatihan tenaga kerja Berau agar siap pakai dan sesuai kebutuhan industri. Termasuk anak-anak kita dari kampung yang selama ini punya potensi besar tetapi belum tersentuh fasilitas pelatihan yang memadai,” katanya.
Meski pembangunan gedung ditargetkan tuntas tahun ini, pemanfaatan BLK secara optimal masih menunggu kelengkapan sarana dan prasarana pendukung. Tanpa peralatan tersebut, fungsi pelatihan belum dapat dijalankan maksimal.
Pemerintah Kabupaten Berau berharap keberadaan BLK dapat mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap tenaga kerja dari luar daerah. Selama ini, keterbatasan fasilitas pelatihan membuat banyak pencari kerja—termasuk dari kampung-kampung terpencil—harus mengikuti program pembekalan ke luar Berau.

“Pengalaman kita, ketika anak-anak Berau dikirim pelatihan ke luar daerah, banyak yang kemudian langsung terserap kerja. Harapannya, dengan BLK ini proses itu bisa dilakukan di daerah sendiri,” tutur Zulkifli.
Selain dukungan anggaran daerah, Disnakertrans Berau membuka peluang sinergi dengan dunia usaha melalui program CSR untuk memperkuat fungsi BLK, terutama dalam penyediaan peralatan pelatihan yang dapat diakses secara merata oleh warga di seluruh kampung.

Dengan rampungnya BLK pada akhir tahun ini, pemerintah daerah optimistis fasilitas tersebut dapat segera difungsikan setelah seluruh kebutuhan pendukung dipenuhi. BLK diharapkan menjadi pusat pengembangan SDM lokal yang manfaatnya dirasakan tidak hanya masyarakat kota, tetapi juga hingga ke kampung-kampung di seluruh Berau. (ADV/Zenn)