BERAU — Pemerintah Kabupaten Berau terus berupaya memperluas akses internet di wilayah pedalaman melalui pembangunan Base Transceiver Station (BTS). Teknologi ini dinilai lebih efektif untuk memperluas jangkauan jaringan hingga beberapa kilometer, jauh melampaui kemampuan perangkat internet berbasis titik seperti Starlink.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Berau, Didi Rahmadi, menjelaskan bahwa kebutuhan BTS sangat mendesak bagi kampung-kampung yang memiliki medan geografis sulit. Dengan BTS, cakupan jaringan bisa menjangkau pemukiman yang tersebar luas.
“Dengan satu BTS itu coveragenya bisa lebih luas daripada Starlink-Starlink ini. Paling sampai dengan 50-50. Tapi kalau dia pakai BTS, itu bisa satu kilo, dua kilo, tiga kilo bahkan coveragenya itu,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi topografi menjadi tantangan utama dalam pemerataan jaringan. Banyak kampung berada di balik bukit atau lembah yang membuat sinyal radio maupun satelit sulit diterima.
Salah satu wilayah yang menghadapi tantangan besar adalah Kecamatan Kelay. Pada 2024, pemerintah merencanakan penyambungan jaringan dari Kampung Merasa menuju Kecamatan Kelay. Namun medan yang tinggi menyebabkan sinyal tidak dapat menembus.
Meski begitu, pemerintah tetap optimistis. Pembangunan infrastruktur BTS dan pemancar mini sedang dikaji ulang agar sesuai dengan kondisi geografis.
“Untuk menggunakan itu perlu 11 tower mini lagi,” tambahnya.
Pemerintah juga memastikan setiap perencanaan infrastruktur mempertimbangkan kebutuhan energi listrik, yang menjadi kendala utama di wilayah pedalaman.
Diskominfo Berau berharap layanan internet di kampung-kampung terpencil dapat meningkat secara bertahap. Pemerintah menegaskan bahwa akses digital merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi untuk mendukung pendidikan, layanan kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi kampung.
GIT/ADV


