Tanjung Redeb — Upaya memperkuat ketahanan pangan kembali menjadi sorotan di Kabupaten Berau. Dinas Pangan Berau bersama organisasi nirlaba Menapak Indonesia dan Article 33 menggelar sebuah lokakarya bertajuk “Menggali Potensi dan Tantangan Ketahanan Pangan untuk Mendukung Transisi Ekonomi Kabupaten Berau”, yang menghadirkan diskusi mendalam tentang masa depan pangan di tengah pergeseran ekonomi daerah.
Warji, selaku perwakilan Dinas Pangan, menegaskan bahwa isu ketahanan pangan jauh lebih kompleks daripada sekadar urusan produksi. “Ketahanan pangan menyangkut akses, distribusi, stabilitas harga, hingga keberlanjutan lingkungan,” ujarnya dalam pemaparannya.
Ia menjelaskan, Kabupaten Berau kini berada di fase krusial. Daerah yang selama ini bertumpu pada sektor pertambangan, tengah mengarahkan haluan menuju ekonomi hijau yang bertumpu pada pertanian dan pariwisata. “Transisi ini menghadirkan tantangan tersendiri. Kita perlu memastikan ketahanan pangan tetap menjadi prioritas,” kata Warji.
Potensi Besar, Tantangan Tak Kalah Besar
Lokakarya ini menjadi ruang strategis untuk mengurai potensi pertanian luas Berau — mulai dari subsektor pertanian, perkebunan, perikanan hingga peternakan. Namun, tantangan juga tak sedikit. Perubahan iklim, keterbatasan lahan produktif, hingga daya saing pangan lokal di pasar modern menjadi pekerjaan rumah yang harus dibereskan bersama.
“Potensi kita luar biasa, tetapi tanpa tata kelola yang baik, semuanya tidak akan berarti. Pengelolaan harus melihat potensi, tantangan, sekaligus kualitas sumber daya manusianya,” tegas Warji.
Ia menambahkan bahwa dalam proses transisi ekonomi, Berau tak boleh hanya menjadi penghasil bahan mentah, tetapi harus naik kelas sebagai daerah pengolah dan pemasok produk pangan bernilai tambah tinggi.
Dorongan Teknologi dan Kolaborasi Lintas Sektor
Pemerintah Kabupaten Berau, lanjut Warji, kini tengah mendorong penerapan teknologi pertanian modern dan digitalisasi untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Penguatan kelembagaan kelompok tani serta akses pembiayaan juga menjadi fokus.
Tak kalah penting, sinergi lintas sektor menjadi kunci agar berbagai inovasi dari lokakarya ini mampu diterapkan tepat sasaran. “Kami berharap muncul rekomendasi, gagasan, dan komitmen bersama untuk memperkuat ketahanan pangan Berau,” ujarnya.
Warji mengingatkan bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga fondasi keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat. “Kita harus memastikan setiap rumah tangga memiliki akses terhadap pangan yang cukup, bergizi, aman, dan berkelanjutan.”
Ia juga menekankan bahwa program ketahanan pangan merupakan mandat pemerintah pusat, sehingga Pemkab Berau akan terus memperluas kegiatan yang berorientasi pada ketangguhan pangan.
Gerakan Bersama Menuju Kemandirian Pangan
Menutup pemaparannya, Warji mengajak seluruh masyarakat Berau untuk menjadikan ketahanan pangan sebagai gerakan bersama. “Mari jadikan setiap kebun, kolam, dan pekarangan sebagai bagian dari upaya besar menuju kemandirian pangan di Bumi Batiwakkal,” serunya.
Lokakarya ini menjadi momentum penting bagi Berau untuk menata ulang strategi pangan di tengah perubahan ekonomi global dan lokal — sebuah langkah yang menentukan arah pembangunan daerah di masa depan. (ADV)


