TANJUNG REDEB – Fenomena alam berupa luapan air Sungai Kelay kembali menjadi perhatian warga di Tanjung Redeb, Jumat (6/3). Luapan air yang melampaui batas normal tersebut mengakibatkan ruas Jalan Pulau Sambit yang berada di pinggiran sungai terendam hingga setinggi setengah badan jalan, yang berdampak signifikan pada terhambatnya mobilitas kendaraan masyarakat.
Kondisi ini sering kali terjadi secara mendadak saat memasuki fase-fase tertentu dalam penanggalan bulan. Air sungai yang biasanya tenang, perlahan merangkak naik hingga meluap ke badan jalan, menciptakan genangan yang cukup dalam bagi kendaraan roda dua maupun roda empat yang melintas di kawasan Jalan Pulau Sambit.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Berau menjelaskan bahwa kondisi ini murni dipicu oleh fenomena astronomi, yakni gaya tarik gravitasi bulan dan matahari terhadap bumi yang menyebabkan pasang air laut atau rob. Mengingat posisi geografis kawasan Jalan Pulau Sambit yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut, kenaikan debit air di muara secara otomatis menaikkan permukaan air sungai.
Kepala Bidang (Kabid) Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Berau, Hendra Pranata, mengonfirmasi bahwa luapan ini bukan disebabkan oleh kerusakan sistem drainase, melainkan murni faktor alamiah. Menurutnya, saat posisi bulan berada pada fase purnama, daya tariknya terhadap massa air di bumi meningkat drastis.
“Airnya naik gara-gara gravitasi bulan saat purnama,” jelas Hendra.
Genangan air yang menutupi Jalan Pulau Sambit ini tidak hanya menghambat laju kendaraan, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran akan kerusakan aspal dan risiko keselamatan bagi pengendara. Beberapa pengendara motor terpaksa memperlambat laju kendaraan guna menghindari risiko mogok atau tergelincir.
Hendra menekankan bahwa pengaruh alam ini memiliki dampak langsung pada ketahanan infrastruktur Jalan Pulau Sambit jika dibiarkan dalam jangka waktu lama. Oleh karena itu, diperlukan langkah antisipasi yang bersifat permanen agar aktivitas ekonomi dan mobilitas warga tetap berjalan normal meski siklus pasang besar terjadi.
Menanggapi keluhan masyarakat mengenai Jalan Pulau Sambit yang sering tergenang, Hendra memaparkan bahwa solusi paling masuk akal adalah dengan menyesuaikan ketinggian jalan. Mengingat faktor penyebabnya adalah alam semesta yang tidak mungkin diubah oleh manusia, maka infrastruktur darat yang harus beradaptasi.
“Solusinya ya yang tergenang harus dinaikkan melebihi permukaan air yang pasang, atau penyebab pasangnya dihilangkan,” tambahnya.
Lebih lanjut, Hendra memastikan bahwa Bidang SDA tidak bekerja sendiri dalam menangani masalah ini. Pihaknya akan segera melakukan koordinasi intensif dengan Bidang Jalan dan jajaran terkait lainnya di DPUPR untuk memetakan titik-titik krusial di sepanjang Jalan Pulau Sambit yang menjadi langganan luapan Sungai Kelay.
Rencana perbaikan dan peninggian Jalan Pulau Sambit ini diharapkan dapat masuk dalam skema prioritas pembangunan daerah. Dengan sinergi antarpetugas dan jajaran di DPUPR, diharapkan penanganan luapan air ini tidak hanya menjadi wacana, sehingga masyarakat Berau dapat menikmati fasilitas Jalan Pulau Sambit yang nyaman dan bebas banjir rob di masa mendatang. (akti)

