BERAU – Upaya membangun kesadaran berlalu lintas di Kabupaten Berau terus diperkuat. Satuan Lalu Lintas Polres Berau kini mendorong kombinasi pendekatan edukasi dan pemanfaatan teknologi sebagai langkah menuju pelayanan yang lebih modern sekaligus humanis.
Salah satu program yang kembali digencarkan adalah gerakan penggunaan helm setiap hari atau helmisasi. Kampanye ini bukan sekadar imbauan, tetapi diarahkan untuk membentuk kebiasaan baru di tengah masyarakat.
Kepala Satlantas Polres Berau, Rhondy Hermawan, menegaskan bahwa disiplin menggunakan helm mencerminkan tingkat kesadaran dan peradaban suatu daerah.
“Program ini sebenarnya sudah lama ada, tapi sekarang kami hidupkan kembali. Kami ingin masyarakat Berau dikenal sebagai masyarakat yang tertib berlalu lintas. Itu salah satu ciri masyarakat madani,” ujarnya.
Menurutnya, helm bukan hanya pelengkap, melainkan perlindungan utama bagi pengendara sepeda motor. Karena itu, kampanye “Tiada Hari Tanpa Helm” terus disuarakan dalam berbagai kesempatan, termasuk saat patroli rutin, sosialisasi ke sekolah, hingga pertemuan dengan komunitas motor.
Di sisi lain, Satlantas juga melakukan pembaruan dalam sistem penegakan hukum. Kini perangkat ETLE Mobile Handheld telah dioperasikan secara aktif di wilayah hukum Polres Berau. Dengan alat tersebut, pelanggaran kasat mata dapat langsung direkam dan diproses secara elektronik di tempat.
“Sekarang personel kami sudah dibekali ETLE Handheld. Jadi penindakan bisa lebih cepat, transparan, dan akurat,” jelas Rhondy.
Meski teknologi sudah berjalan, pendekatan persuasif tetap menjadi prioritas. Pelanggar yang kedapatan tidak memakai helm atau melakukan kesalahan ringan masih diberikan teguran dan edukasi. Namun jika pelanggaran dilakukan berulang, tindakan tegas akan diterapkan sesuai aturan.
Selain fokus pada helm, Satlantas juga terus mengingatkan pentingnya kelengkapan administrasi kendaraan seperti SIM, STNK, Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB), spion, serta perlengkapan keselamatan lainnya. Pengawasan turut diperluas untuk mencegah pelanggaran seperti knalpot tidak sesuai standar dan balap liar yang berpotensi membahayakan pengguna jalan lain.
Rhondy menilai, sinergi antara edukasi dan teknologi menjadi kunci menekan angka kecelakaan, khususnya menjelang Ramadan dan Idulfitri saat mobilitas masyarakat meningkat.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya takut ditilang, tapi benar-benar sadar bahwa keselamatan itu kebutuhan. Tertib di jalan bukan karena ada polisi, tapi karena memang sudah menjadi budaya,” tegasnya.
Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari orang tua, sekolah, hingga komunitas, untuk bersama-sama mengawal generasi muda agar lebih disiplin saat berkendara.
“Kalau semua punya kesadaran yang sama, saya yakin Berau bisa menjadi contoh daerah yang aman dan tertib dalam berlalu lintas,” pungkasnya.(*)

