TANJUNG SELOR – Rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek 2557 yang jatuh pada Shio Kuda Api resmi ditutup dalam suasana penuh kebersamaan di Kabupaten Bulungan. Penutupan tersebut dihadiri dan ditutup langsung oleh Bupati Bulungan, Syarwani, yang dalam sambutannya mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga dan merawat keberagaman sebagai kekuatan utama membangun daerah.
Dalam kesempatan itu, Bupati Syarwani menegaskan bahwa Kabupaten Bulungan merupakan miniatur Indonesia karena dihuni oleh beragam suku, agama, dan latar belakang budaya. Menurutnya, kebhinekaan yang ada bukanlah perbedaan yang memisahkan, melainkan kekuatan yang harus dirawat bersama.
“Ini menjadi spirit kita bersama untuk menjaga Bulungan. Daerah ini adalah mininya Indonesia. Keberagaman yang hidup di Kabupaten Bulungan harus kita rawat, dan itu menjadi kekuatan kita untuk membangun Bulungan,” ujarnya, malam Sabtu (28/2).
Ia juga menyampaikan keyakinannya bahwa masyarakat Tionghoa di Bulungan memiliki kepedulian yang besar terhadap kemajuan daerah. Menurutnya, semangat kebersamaan harus terus dijaga tanpa mempersoalkan latar belakang agama maupun etnis.
“Saya yakin warga Tionghoa dan seluruh masyarakat Bulungan tidak mempersoalkan perbedaan agama. Yang ada adalah kepedulian bersama untuk membangun daerah,” tambahnya.
Bupati turut menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kontribusi masyarakat Tionghoa dalam pembangunan Kabupaten Bulungan. Ia menilai, pelestarian tradisi seperti perayaan Imlek merupakan bagian dari kekayaan budaya daerah yang patut dijaga.
Sementara itu, Ketua PSMTI Bulungan, Hendy Dermawan, mengatakan bahwa perayaan Imlek tidak hanya sekadar seremoni tahunan, tetapi mengandung pesan besar bagi Indonesia, khususnya Kabupaten Bulungan.
Menurutnya, harmoni bukan berarti semua harus sama, melainkan bagaimana tetap satu rasa dalam keberagaman. Ia menegaskan bahwa Nusantara memiliki banyak warna budaya yang justru menjadi kekuatan bangsa.
“Ada tiga pesan dalam perayaan Imlek ini. Pertama, Imlek adalah perayaan kebersamaan. Kedua, menjadi ruang di mana semua budaya, etnis, dan keyakinan saling menghormati. Ketiga, Imlek menghadirkan cahaya dan kehangatan yang menumbuhkan empati serta keselarasan,” jelasnya.
Hendy juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat tradisi tanpa melupakan semangat untuk maju dan beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Imlek membawa cahaya dan kehangatan yang menumbuhkan empati. Kita harus merawat tradisi, namun tetap melangkah maju. Mari bersama membuka jalan bagi Bulungan yang berdaulat, bersinergi, dan adaptif,” pungkasnya.
Penutupan Imlek 2557 di Tanjung Selor berlangsung dengan penuh kekeluargaan dan semangat persatuan. Momentum ini diharapkan semakin mempererat hubungan antarwarga serta memperkuat komitmen bersama dalam membangun Kabupaten Bulungan yang harmonis, inklusif, dan berdaya saing. (adv/Lia)

