Tanjung Redeb — Di balik gencarnya promosi destinasi unggulan Kabupaten Berau, masih tersisa pekerjaan rumah besar yang belum terselesaikan: infrastruktur dasar. Anggota Komisi II DPRD Berau, Agus Uriansyah, menyebut kenyamanan wisatawan kerap dikorbankan akibat persoalan klasik yang terus berulang dari tahun ke tahun.
Akses jalan menuju sejumlah objek wisata, kata Agus, masih menjadi hambatan utama. Di beberapa titik, kondisi jalan rusak dan sulit dilalui, terutama saat musim hujan. Situasi ini tak hanya menyulitkan wisatawan, tetapi juga meningkatkan biaya operasional pelaku usaha pariwisata.
“Promosi boleh gencar, tapi kalau jalan menuju lokasi masih rusak, orang akan berpikir dua kali untuk datang,” ujar Agus kepada media, Selasa (4/2/2026).
Persoalan lain yang tak kalah krusial adalah ketersediaan listrik dan jaringan internet. Di era pariwisata digital, koneksi internet bukan lagi fasilitas tambahan, melainkan kebutuhan dasar. Wisatawan ingin tetap terhubung, membagikan pengalaman, sekaligus menjadi promotor gratis bagi destinasi yang mereka kunjungi.
“Sekarang wisata bukan hanya soal datang dan melihat. Orang ingin memotret, mengunggah, berbagi cerita secara real time. Kalau sinyal sulit, pengalaman wisata menjadi setengah jadi,” kata Agus.
Agus menilai, lemahnya dukungan infrastruktur menunjukkan belum sinkronnya visi pembangunan pariwisata dengan realitas di lapangan. Pemerintah daerah, menurut dia, masih terlalu fokus pada agenda promosi dan event, sementara pembenahan layanan dasar berjalan lambat.
Tak hanya soal infrastruktur fisik, Agus juga menyoroti persoalan harga makanan dan jasa wisata yang belum terkendali. Di beberapa destinasi, wisatawan mengeluhkan harga yang melonjak tanpa standar yang jelas. Praktik ini berpotensi merusak citra Berau sebagai daerah tujuan wisata yang ramah.
“Sekali wisatawan merasa dirugikan, dampaknya bisa panjang. Mereka tidak kembali dan menyebarkan pengalaman buruknya. Itu lebih berbahaya daripada tidak datang sama sekali,” ujarnya.
Agus mendorong pemerintah daerah segera menyusun peta jalan (roadmap) pembenahan pariwisata yang realistis dan terukur.
Prioritas utama, kata dia, seharusnya diarahkan pada perbaikan aksesibilitas, stabilisasi listrik, perluasan jaringan telekomunikasi, serta pengawasan harga di kawasan wisata.
Menurut Agus, pariwisata Berau memiliki modal alam yang kuat. Namun tanpa fondasi infrastruktur yang kokoh, potensi tersebut akan sulit berkembang optimal.
“Kalau ingin pariwisata menjadi tulang punggung ekonomi daerah, maka yang dibangun pertama bukan baliho promosi, tetapi kenyamanan dasar wisatawan,” kata dia.
Ia menekankan, pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan menuntut kolaborasi lintas sektor—pemerintah daerah, pengelola destinasi, pelaku usaha, hingga masyarakat sekitar. Tanpa itu, pariwisata Berau dikhawatirkan hanya akan tumbuh di permukaan, rapuh di dalam.(Zenn)

