TANJUNG SELOR – Kinerja ekspor melalui pelabuhan di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) pada periode Januari hingga April 2026 mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini terutama dipengaruhi melemahnya ekspor sektor industri dan pertanian.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Utara, nilai ekspor melalui pelabuhan di Kaltara sepanjang Januari–April 2026 tercatat sebesar US$434,39 juta, turun 3,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai US$451,91 juta.

Kepala BPS Kalimantan Utara, Mustaqim, menjelaskan bahwa penurunan ekspor tersebut terutama terjadi pada komoditas nonmigas yang berasal dari sektor industri dan pertanian.

“Penurunan ekspor nonmigas disebabkan oleh turunnya ekspor hasil industri dan hasil pertanian. Nilai ekspor hasil industri turun dari US$149,81 juta menjadi US$125,17 juta atau berkurang 16,45 persen. Sementara ekspor hasil pertanian turun dari US$11,35 juta menjadi US$6,49 juta atau turun 42,82 persen,” ujarnya, Rabu (17/6).

Selain itu, pada April 2026 saja, nilai ekspor Kaltara tercatat sebesar US$124,91 juta, atau turun 9,78 persen dibandingkan April 2025. Kondisi ini menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan luar negeri masih menghadapi tantangan, terutama dari sektor pengolahan dan pertanian yang selama ini menjadi salah satu penopang ekspor daerah.

Meski demikian, di tengah penurunan ekspor melalui pelabuhan di Kaltara, nilai ekspor asli Provinsi Kalimantan Utara justru menunjukkan pertumbuhan positif. Selama Januari–April 2026, ekspor asli Kaltara mencapai US$451,11 juta, meningkat 1,60 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar US$443,98 juta.

Peningkatan tersebut didorong oleh sektor pertambangan yang masih menjadi andalan ekspor daerah. Nilai ekspor hasil tambang tercatat naik 3,34 persen menjadi US$299,07 juta.

“Kontribusi terbesar masih berasal dari sektor pertambangan yang mengalami peningkatan. Namun sektor industri dan pertanian masih mengalami penurunan sehingga perlu menjadi perhatian bersama,” kata Mustaqim.

Sementara itu, ekspor asli Kaltara yang dikirim melalui pelabuhan di luar provinsi mencapai US$49,40 juta. Sebagian besar pengiriman dilakukan melalui Provinsi Jawa Timur dengan nilai mencapai US$45,93 juta, disusul Sulawesi Selatan sebesar US$2,75 juta, dan DKI Jakarta sebesar US$0,68 juta.

Dari sisi negara tujuan, Tiongkok masih menjadi pasar utama ekspor Kaltara dengan nilai mencapai US$157,75 juta atau sekitar 36,62 persen dari total ekspor Januari–April 2026. Posisi berikutnya ditempati Filipina sebesar US$75,65 juta, Vietnam US$57,27 juta, India US$46,19 juta, dan Korea Selatan US$39,14 juta.

Kelima negara tersebut menyumbang sekitar 87,29 persen dari total ekspor Kaltara selama empat bulan pertama tahun ini.
Menariknya, meskipun total ekspor melalui pelabuhan Kaltara menurun, beberapa negara tujuan justru mencatat kenaikan permintaan yang cukup tinggi.

Ekspor ke Vietnam melonjak hingga 402,40 persen, Thailand naik 138,29 persen, India naik 43,75 persen, dan Korea Selatan meningkat 29,77 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Secara keseluruhan, nilai ekspor ke delapan negara tujuan utama mencapai US$422,02 juta, atau meningkat 6,30 persen dibandingkan Januari–April 2025.

“Pasar ekspor Kaltara masih cukup kuat, terutama di negara-negara Asia. Namun penurunan produksi dari sektor industri dan pertanian menjadi faktor yang memengaruhi capaian ekspor melalui pelabuhan di daerah ini,” tutup Mustaqim. (Lia)