Samarinda – Bumi Etam (julukan Kaltim) telah mencatat inflasi sebesar 4,64 persen secara tahunan (year on year/y-on-y) pada Februari 2026.
Angka tersebut berdasarkan rilis resmi Badan Pusat Statistik Kaltim dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) berada di level 110,50.
Inflasi tertinggi terjadi di Samarinda sebesar 5,29 persen dengan IHK 110,43.
Sementara inflasi terendah tercatat di Penajam Paser Utara sebesar 4,13 persen dengan IHK 110,09.
Kepala BPS Kaltim Mas’ud Rifai menjelaskan, inflasi dipicu oleh kenaikan harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran masyarakat.
“Inflasi terjadi karena mayoritas kelompok pengeluaran mengalami kenaikan indeks,” ujar Mas’ud dalam keterangan resminya yang diterima oleh It.news.id, Selasa (3/3/2026).
Kelompok pengeluaran yang mencatat kenaikan tertinggi adalah perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang melonjak hingga 14,14 persen.
Disusul perawatan pribadi dan jasa lainnya yang naik signifikan sebesar 16,98 persen.
Tekanan harga juga terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik 3,75 persen.
Selain itu, kenaikan tercatat pada kelompok kesehatan (1,35 persen), pendidikan (2,43 persen), rekreasi, olahraga, dan budaya (1,32 persen), serta penyediaan makanan dan minuman/restoran (1,38 persen).
Di sisi lain, sejumlah kelompok pengeluaran justru mengalami penurunan harga.
Pakaian dan alas kaki turun 1,01 persen, perlengkapan dan pemeliharaan rumah tangga turun 1,25 persen, transportasi turun tipis 0,04 persen, serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan turun 0,16 persen.
Secara bulanan (month to month/m-to-m), inflasi Februari 2026 tercatat 0,60 persen.
Sementara secara tahun berjalan (year to date/y-to-d), inflasi berada di angka 0,64 persen.
Kondisi ini menunjukkan tekanan harga di Kalti. masih berlangsung, terutama pada sektor kebutuhan dasar rumah tangga dan jasa yang dampaknya langsung dirasakan masyarakat.

