Tanjung Redeb – Keterbatasan anggaran yang dialami Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau pada tahun 2026 mendorong perubahan strategi dalam pengelolaan sektor pariwisata. Pemerintah daerah kini mengarahkan pengelola destinasi wisata agar tidak lagi bergantung sepenuhnya pada dukungan APBD, melainkan mampu berdiri mandiri melalui inovasi dan pengelolaan yang lebih aktif.

Pada tahun anggaran 2026, Disbudpar Berau hanya mengantongi dana sebesar Rp44,87 miliar. Jumlah tersebut mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun 2025 yang mencapai lebih dari Rp68 miliar, bahkan lebih rendah dari anggaran tahun 2024.

Pelaksana Tugas Sekretaris Disbudpar Berau, Samsiah Nawir, menyebut kondisi ini membuat pihaknya harus melakukan penyesuaian terhadap rencana kerja yang telah disusun sebelumnya.

“Dengan keterbatasan anggaran, tentu kami harus menyusun ulang prioritas. Program tetap berjalan, tapi disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dari total anggaran tersebut, sebagian besar dialokasikan untuk pengembangan sektor pariwisata. Sisanya digunakan untuk kegiatan rutin dinas serta program di bidang kebudayaan.

“Untuk pariwisata sendiri mencakup tiga fokus utama, yakni pemasaran dan kerja sama, usaha jasa pariwisata, serta pengembangan destinasi,” jelasnya.

Lebih lanjut, Samsiah menekankan bahwa kondisi ini seharusnya menjadi momentum bagi pengelola destinasi wisata untuk mulai mengoptimalkan potensi yang telah dimiliki. Sejumlah destinasi di Berau dinilai telah memiliki fasilitas yang memadai sebagai modal awal pengelolaan mandiri.

Ia mencontohkan kawasan wisata Batu-Batu yang sudah dilengkapi berbagai sarana pendukung seperti plaza kuliner, dermaga wisata, hingga aktivitas susur sungai.

“Fasilitas itu sudah ada dan tinggal dikelola dengan lebih maksimal. Jangan sampai dibangun tapi tidak dihidupkan,” tegasnya.

Menurutnya, pengelolaan yang lebih aktif, termasuk penerapan retribusi dan pengembangan layanan wisata, dapat menjadi sumber pendapatan sekaligus menjaga keberlanjutan destinasi.

Di tengah keterbatasan anggaran, Disbudpar Berau berharap muncul terobosan dan kolaborasi dari para pengelola wisata agar sektor pariwisata tetap bergerak dan mampu bertahan.

“Kami berharap situasi ini justru melahirkan inovasi baru, sehingga pariwisata Berau tetap tumbuh dan berkelanjutan,” pungkasnya.(*)