BERAU — Aspek keselamatan transportasi laut di Kabupaten Berau menjadi perhatian serius pemerintah daerah, terutama terkait armada speedboat yang masih minim dilengkapi alat navigasi modern seperti GPS.
Kepala Dinas Perhubungan Berau, Andi Marewangeng, mengakui bahwa sebagian besar speedboat milik masyarakat masih mengandalkan komunikasi sederhana, seperti telepon seluler dan radio terbatas.
“Memang saat ini masih banyak yang belum menggunakan alat seperti GPS, masih mengandalkan komunikasi biasa,” ujarnya.
Sebagai langkah peningkatan keselamatan, Dinas Perhubungan mendorong penggunaan sistem komunikasi radio yang terintegrasi, termasuk rencana pemasangan repeater di wilayah strategis seperti Tanjung Batu.
“Ke depan kita dorong semua speed wajib memiliki radio. Jadi kalau di tengah laut bisa langsung terpantau dan berkomunikasi,” jelasnya.
Dengan adanya repeater, komunikasi antar kapal dan petugas di darat diharapkan dapat berjalan lebih optimal, terutama dalam kondisi darurat.
Selain itu, untuk kapal-kapal berukuran lebih besar, Dishub mencatat sudah mulai menggunakan sistem komunikasi satelit yang memungkinkan pemantauan secara lebih akurat.
“Kalau untuk speed besar sudah ada yang menggunakan komunikasi satelit, jadi bisa dipantau,” tambahnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa peningkatan standar keselamatan akan dilakukan secara bertahap, mengingat sebagian besar pelaku usaha transportasi laut di Berau berasal dari masyarakat yang berkembang secara mandiri.
“Ini kan banyak pelaku usaha yang awalnya berkembang sendiri. Kita beri waktu, mungkin lima tahun ke depan mereka harus memenuhi standar yang ditetapkan,” katanya.
Dengan dorongan ini, pemerintah berharap keselamatan pelayaran di wilayah Berau dapat meningkat seiring dengan pertumbuhan sektor transportasi dan pariwisata.(*)

