TANJUNG SELOR – Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) dipercaya menjadi tuan rumah Konsultasi Regional Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun 2026 untuk wilayah KASULAMPUA. Kegiatan ini melibatkan daerah-daerah dari empat kawasan besar di Indonesia, yaitu Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh berbagai pihak penting, mulai dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dari masing-masing provinsi, Badan Pusat Statistik (BPS), Bank Indonesia (BI), hingga Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPB).

Kehadiran berbagai lembaga ini menjadi bukti kuat adanya komitmen bersama dalam membangun dan memperkuat ekonomi regional, khususnya di kawasan timur Indonesia.

Sebagai provinsi ke-34 di Indonesia yang juga berada di wilayah perbatasan dengan Malaysia, Kaltara dinilai memiliki posisi strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan. Melalui forum ini, diharapkan terjalin sinergi yang solid antar 19 provinsi yang tergabung dalam KASULAMPUA.

Konsultasi regional ini tidak hanya menjadi ajang pertemuan, tetapi juga bertujuan untuk mengevaluasi perkembangan ekonomi daerah sekaligus menggali potensi yang dapat dikembangkan di masa depan. Fokus utama pembahasan adalah bagaimana meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi yang merata di seluruh wilayah KASULAMPUA.

Gubernur Kalimantan Utara, Zainal A Paliwang, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi peluang besar bagi daerahnya untuk memperkuat perekonomian. Ia menyebut kehadiran berbagai lembaga seperti BI, BPS, dan DJPB sebagai bentuk sinergi nyata dalam merancang strategi peningkatan pendapatan masyarakat.

“Pertemuan ini menjadi angin segar bagi Kaltara. Kita ingin menghidupkan perekonomian daerah, dan dengan keterlibatan berbagai pihak, tentu akan tercipta kolaborasi yang baik untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya usai kegiatan, Rabu 15 April 2025.

Zainal juga optimistis terhadap kondisi ekonomi Kaltara dalam beberapa tahun terakhir. Ia menjelaskan bahwa pertumbuhan PDRB daerah pada periode 2024 hingga 2025 menunjukkan tren yang positif. Salah satu faktor utama yang mendorong pertumbuhan tersebut adalah perkembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang semakin pesat.

Menurutnya, UMKM menjadi tulang punggung perekonomian daerah karena mampu menyerap tenaga kerja dan meningkatkan perputaran ekonomi lokal. Selain itu, sektor manufaktur juga mulai menunjukkan peningkatan yang signifikan, sehingga turut memperkuat struktur ekonomi Kaltara.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa upaya peningkatan ekonomi ini tidak hanya dilakukan oleh Kaltara saja, melainkan melalui kolaborasi seluruh provinsi dalam KASULAMPUA. Kerja sama ini diharapkan dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih merata dan berkelanjutan di kawasan timur Indonesia.

Dalam forum tersebut, para peserta juga melakukan evaluasi terhadap kinerja ekonomi masing-masing daerah. Evaluasi ini penting untuk mengidentifikasi berbagai tantangan dan isu strategis yang dihadapi, khususnya dalam meningkatkan produktivitas dan daya saing daerah.

Hasil dari pembahasan ini nantinya akan dirumuskan menjadi rekomendasi kebijakan yang konkret, aplikatif, dan terukur. Kebijakan tersebut diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih produktif, sekaligus memperkuat stabilitas ekonomi regional.

Di akhir pernyataannya, Zainal berharap sinergi yang terjalin antara pemerintah daerah, lembaga pusat, dan seluruh pemangku kepentingan dapat terus diperkuat. Dengan demikian, stabilitas ekonomi regional dapat terjaga dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia secara keseluruhan.

“Kami berharap kerja sama ini bisa terus berlanjut, sehingga ekonomi regional tetap stabil dan mampu mendorong Indonesia menjadi negara yang lebih maju,” tutupnya. (Lia)