BERAU – Kejenuhan terhadap hiruk pikuk perkotaan membuka peluang baru bagi pengembangan pariwisata berbasis alam di Kabupaten Berau. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) setempat menilai wisata pedalaman dapat menjadi alternatif “healing” yang diminati wisatawan.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau mendorong pengembangan wisata pedalaman sebagai destinasi unggulan yang menawarkan ketenangan sekaligus pengalaman menyatu dengan alam.

Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantoso, menyebutkan bahwa wisata hutan memiliki daya tarik tersendiri karena keasliannya yang masih terjaga. Menurutnya, konsep wisata yang berada di tengah hutan memberikan pengalaman berbeda, termasuk menikmati hasil alam secara langsung.

“Keindahan hutan yang masih alami ini punya daya tarik tersendiri, terutama bagi mereka yang suka bertualang,” ujarnya, Kamis (16/04/2026).

Yudha menilai tren wisata berbasis alam semakin relevan, khususnya bagi masyarakat yang ingin melepas penat dari kehidupan perkotaan. Konsep wisata yang menyatu dengan alam dinilai mampu memberikan ketenangan sekaligus pengalaman baru bagi pengunjung.

Meski demikian, Yudha menekankan pentingnya pengemasan wisata pedalaman secara matang, termasuk penyediaan fasilitas dasar seperti pemandu wisata dan pengalaman bermalam yang aman dan nyaman.

“Mungkin juga sensasinya kalau misalnya ada tempat untuk bermalam, makan dari hasil hutan, itu bisa jadi daya tarik. Banyak juga wisatawan, terutama mancanegara, yang justru mencari pengalaman seperti itu,” jelasnya.

Ia merekomendasikan sejumlah destinasi potensial di wilayah pedalaman, di antaranya Danau Nyadeng di Kampung Merabu, Kecamatan Kelay, serta Air Terjun Tembalang di Kampung Punan Malinau, Kecamatan Segah. Menurutnya, kawasan tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai wisata petualangan.

“Kalau saya mengamatinya, untuk wisata petualangan itu Kelay dan Segah yang harus dikembangkan,” ungkapnya.

Yudha juga berencana mengembangkan konsep wisata yang lebih menantang, seperti wahana seluncur tali (flying fox) yang telah diterapkan di kawasan wisata Summer Camp Kampung Rantau Panjang.

Tak hanya berfokus pada alam, Yudha juga ingin menghadirkan pengalaman interaksi langsung antara wisatawan dan masyarakat lokal. Dengan begitu, wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga merasakan kehidupan sosial budaya setempat.

“Bagaimana membuat trip petualangan yang membuat mereka tertantang, tertarik, dan pada akhirnya bisa menyatu dengan masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, konsep tersebut diharapkan mampu menarik minat wisatawan yang ingin merasakan suasana sunyi, jauh dari kebisingan kota, sekaligus menikmati keindahan alam yang masih alami.

“Jadi orang yang sudah jenuh di kota bisa merasakan bermalam di tempat-tempat yang sunyi,” katanya.

Disbudpar Berau pun berharap pengembangan wisata pedalaman dapat berjalan seiring dengan peningkatan akses dan infrastruktur, sehingga potensi pariwisata tidak hanya terpusat di wilayah pesisir, tetapi juga merata hingga ke kawasan pedalaman.

“Ke depan, kita ingin mengembangkan wisata pedalaman, bukan hanya di pesisir saja,” tutupnya.