TANJUNG SELOR – Infrastruktur kesehatan di Provinsi Kalimantan Utara dinilai masih belum memadai untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah rumah sakit di Kaltara saat ini baru mencapai 17 unit, baik rumah sakit pemerintah maupun swasta.

Jumlah tersebut jauh tertinggal dibanding sejumlah provinsi besar di Indonesia. Data BPS tahun 2024–2025 mencatat Provinsi Jawa Timur memiliki sekitar 400 rumah sakit, Jawa Barat sebanyak 350 rumah sakit, dan DKI Jakarta sekitar 200 rumah sakit.

Kepala Dinas Kesehatan Kaltara, Usman, mengakui keterbatasan infrastruktur kesehatan tersebut masih menjadi tantangan pemerintah daerah.

“Keterbatasan infrastruktur kesehatan memang betul adanya. Namun pada 2026 kami merencanakan pembangunan rumah sakit tipe B dengan kualitas dan kompetensi yang baik,” ujar Usman pekan ini.

Menurutnya, pembangunan rumah sakit baru akan menjadi langkah penting untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Bumi Benuanta. Ia menilai masyarakat kini semakin membutuhkan layanan kesehatan yang berkualitas, bahkan tidak sedikit warga yang memilih berobat ke luar daerah maupun luar negeri.

“Fenomena sekarang, layanan kesehatan berkualitas sangat dicari masyarakat, bahkan sampai ada yang berobat ke luar negeri,” katanya.

Rencana pembangunan rumah sakit tipe B tersebut akan dipusatkan di ibu kota Kaltara, Tanjung Selor atau kilometer dua. Selama ini, banyak pasien di ibu Kota Kaltara masih harus dirujuk ke Tarakan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan lanjutan.

Selain persoalan infrastruktur, Dinas Kesehatan juga menyoroti masih kurangnya pemerataan tenaga kesehatan, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Pemerintah pun mulai mendorong pemanfaatan teknologi dalam pelayanan kesehatan untuk meningkatkan kualitas layanan masyarakat.

Sementara itu, Kepala Dinas PUPR-Perkim Kaltara, Helmy, membenarkan bahwa pembangunan rumah sakit tipe B telah masuk dalam rencana pemerintah daerah.

“Untuk pembangunan RS tipe B ini nanti di Kilometer 2, Tanjung Selor, rencana investasinya kurang lebih Rp300 miliar,” ungkap Helmy.

Ia menambahkan, pembangunan rumah sakit tersebut nantinya tidak hanya melibatkan pemerintah, tetapi juga menggandeng pihak swasta untuk mendukung percepatan pembangunan layanan kesehatan di Kaltara.

“Pembangunan RS tipe B ini kita gandeng pihak swasta, yang sampai hari ini kita masih mencari dan memang sudah ada yang berminat dari Sulawesi,” pungkasnya. (Lia)