BERAU — Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kabupaten Berau meningkatkan tingkat kesiapsiagaan personel secara menyeluruh guna mengantisipasi maraknya insiden kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang diduga sengaja dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab dalam beberapa waktu terakhir.
Langkah pencegahan dan penanggulangan ekstra kini disiagakan di berbagai pos wilayah. Langkah ini diambil mengingat ancaman karhutla tidak hanya merusak ekosistem lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas pemukiman warga serta pasokan kebutuhan dasar di Kabupaten Berau.
Kasi Pemadaman Disdamkarmat Berau, H. Azkar Husairi, menegaskan bahwa seluruh armada dan jajaran personel saat ini berada dalam kondisi siaga penuh tanpa henti. Kesiapsiagaan tersebut tidak hanya difokuskan pada penanganan kebakaran di pemukiman warga, melainkan juga respons cepat terhadap laporan karhutla yang terus bermunculan.
“Personil full siaga dan action (siaga 65 pemukiman, siaga dan action karthutla, siaga dan droping air bersih ke warga),” ujar H. Azkar Husairi saat memberikan keterangan resminya, Jumat (21/8/2026).
Guna menekan tingginya angka pembakaran lahan secara sengaja, Disdamkarmat Berau juga aktif mengerahkan upaya pencegahan dari tingkat paling kecil. Patroli gabungan terus digencarkan dengan melibatkan berbagai unsur kepolisian, militer, hingga ke tingkat pemerintah desa dan kelompok tani.
Edukasi langsung serta pendekatan secara intensif dari rumah ke rumah menjadi strategi utama untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai bahaya dan implikasi hukum dari pembukaan lahan dengan metode membakar.
“Patroli gabungan di posko posko kecamatan dengan tni, polri, redkar, mpa, aparatur pemerihtahan kecamatan dan kampung dor to dor ke rumah warga dan kelompok tani agar tidak membuka lahan dgn cara membakar, dan menekankan ke pelaku usaha agar memberikan himbauan pamplet mengenai karthutla,” tegas Azkar.
Upaya penekanan angka pembakaran hutan ini dinilai tidak dapat berjalan maksimal tanpa adanya sinergi lintas sektoral yang solid. Oleh karena itu, Disdamkarmat Berau memperkuat kolaborasi bersama instansi teknis seperti BPBD, KPHP, Manggala Agni, BWS PUPR Pusat, hingga sukarelawan penanggulangan bencana dan pihak swasta di sekitar kecamatan.
“Disdamkarmat, tni, polri, bpbd, kphp, manggala agni, bws pupr pusat, redkar, mpa, pmi, aparatur camat dan lurah/kakam, pelaku usha sekitaran kecamatan, tenaga medis,” jelasnya merincikan peta keterlibatan lintas pihak dalam koordinasi lapangan.
Meskipun demikian, pelaksanaan tugas pemadaman di lapangan sering kali dihadapkan pada hambatan dan tantangan yang sangat kompleks. Selain keterbatasan sumber daya manusia serta pasokan logistik pangan dan BBM, kondisi teknis sarana prasarana yang mulai mengalami gangguan serta akses medan ekstrem tanpa jalur kendaraan roda empat menjadi kendala utama tim di lapangan.
“Kendala minim personil, minim logistik(bbm, pangan) mulai trobelnya unit tangki, sapras (mesin/selang bocor) lokasi yg jauh dan tak ada jalur kendaraan r4,” ungkap Azkar mengenai tantangan berat yang dihadapi jajarannya saat bertugas.

