BERAU – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Berau merilis data terbaru mengenai indikator kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan data terkini, angka kemiskinan dan tingkat pengangguran terbuka di Bumi Batiwakkal menunjukkan tren penurunan yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Statistisi Ahli Muda BPS Berau, Pipit Irawiriadi, mengungkapkan bahwa persentase penduduk miskin di Kabupaten Berau pada tahun 2025 tercatat sebesar 4,44 persen. Angka ini menurun jika dibandingkan dengan data tahun 2024 yang berada di angka 5,08 persen.
“Terjadi penurunan persentase penduduk miskin dari 5,08 persen di tahun 2024 menjadi 4,44 persen di tahun 2025,” ujar Pipit dalam sesi wawancara di kantornya. Kamis (23/4/2026)
Kabar positif juga datang dari sektor ketenagakerjaan. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Berau mengalami penurunan dari 5,15 persen pada tahun 2024 menjadi 4,40 persen pada tahun 2025. Hal ini mengindikasikan adanya perbaikan penyerapan tenaga kerja di berbagai sektor ekonomi lokal.
Meski menunjukkan data yang menggembirakan, Pipit mengakui bahwa proses pendataan di lapangan masih menghadapi berbagai kendala. Salah satu tantangan utama adalah adanya penolakan dari sebagian masyarakat saat petugas BPS berkunjung.
“Masih ada masyarakat yang mencurigai petugas sebagai penipu, padahal petugas kami selalu dilengkapi dengan atribut resmi, tanda pengenal, dan surat tugas,” jelasnya.
Selain itu, sebagian warga enggan memberikan data karena merasa tidak mendapatkan dampak langsung secara ekonomi dari pendataan tersebut.
Pipit menekankan bahwa data yang akurat sangat krusial karena menjadi dasar bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan pembangunan dan bantuan sosial yang tepat sasaran.
Menutup penjelasannya, Pipit mengimbau masyarakat untuk lebih terbuka terhadap petugas, terutama menjelang pelaksanaan Sensus Ekonomi yang dijadwalkan pada Mei hingga Juni 2026 mendatang.
“Kami berharap warga Berau dapat menerima petugas dengan terbuka dan memberikan data yang sebenar-benarnya. Pembangunan yang baik tidak mungkin terlaksana tanpa didasari oleh data yang akurat,” pungkasnya. (akti)

