TANJUNG SELOR — Peringatan Hari Kartini setiap 21 April selalu menjadi momen penting untuk mengenang perjuangan R.A. Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, mulai dari kesetaraan gender hingga akses pendidikan.
Namun, semangat itu tidak berhenti pada masa lalu. Hari ini, nilai-nilai perjuangan Kartini terus hidup dalam sosok perempuan-perempuan Indonesia yang berkarya dan mengabdi bagi negeri.
Salah satu potret nyata Kartini masa kini adalah IPTU Magdalena. Di balik seragam kepolisian yang tegas dan penuh wibawa, tersimpan kisah perjuangan seorang perempuan yang memilih jalan pengabdian dengan segala konsekuensinya.
Perwira kelahiran 1987 ini telah menapaki perjalanan panjang dalam kariernya di institusi Polri. Ia mengawali tugas di Polres Malinau, kemudian bertugas di Direktorat Reserse Polda Kalimantan Utara. Berbagai jabatan strategis pernah diembannya, mulai dari KBO Lantas, Wakasat Narkoba, Kasi Humas, hingga kini dipercaya sebagai Kasat Polairud Polresta Bulungan.
Perjalanan tersebut tentu bukan tanpa tantangan. Bekerja di lingkungan yang didominasi laki-laki membuat IPTU Magdalena harus membuktikan kapasitas dan ketangguhannya sebagai seorang perempuan.
Namun, perempuan yang akrab disapa Lena ini justru menjadikan hal tersebut sebagai motivasi untuk terus berkembang.
“Terkadang menjadi seorang Polwan bukan hal yang mudah. Kami harus siap dengan segala risiko dan tanggung jawab yang diamanahkan,” ujarnya, Selasa (21/4).
Ia juga mengungkapkan dilema yang kerap dihadapi sebagai perempuan karier sekaligus ibu. “Ada saat di mana saya harus meninggalkan suami dan anak-anak demi tugas negara. Itu bukan hal mudah, tapi di situlah komitmen diuji,” katanya.
Meski demikian, di balik semua pengorbanan tersebut, tersimpan rasa bangga yang mendalam. Baginya, mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat adalah bentuk pengabdian yang tak ternilai.
“Ada kebanggaan tersendiri ketika bisa bekerja secara totalitas, apalagi di lingkungan yang mayoritas laki-laki. Saya ingin membuktikan bahwa perempuan juga mampu berprestasi dan menginspirasi tanpa harus merasa minder,” tambahnya.
Di momentum Hari Kartini ini, IPTU Magdalena berharap perempuan Indonesia semakin berani untuk tampil, berinovasi, dan berkarya tanpa batasan.
Ia juga menekankan pentingnya saling menghargai keberagaman serta memberikan ruang bagi semua individu, termasuk penyandang disabilitas, untuk berkembang.
“Perempuan harus terus maju dengan tetap menjunjung nilai humanis dan integritas. Tidak boleh ada diskriminasi. Semua punya kesempatan yang sama untuk menjadi lebih baik,” tegasnya.
Kisah IPTU Magdalena menjadi pengingat bahwa semangat Kartini tidak hanya hidup dalam buku sejarah, tetapi juga dalam setiap langkah perempuan Indonesia masa kini. Dengan konsistensi, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab, perempuan mampu menjadi pilar penting dalam pembangunan bangsa.
Di balik seragam yang tampak tegas, ada ketulusan, kekuatan, dan semangat juang yang tak pernah padam sebuah refleksi nyata dari perjuangan Kartini yang terus hidup hingga hari ini. (Lia)

