BERAU, IT-NEWS.ID – Dua kali kebakaran terjadi di kawasan Pasar Sanggam Adji Dilayas (SAD) Berau kebakaran pertama Dikutip pada Tribunnews.com yang melandapada Hari Raya Idul Fitri 1434 Hijriah. Sedikitnya 20 kios di belakang Pasar Sanggam Adji Dilayas, habis dilalap api, Kamis (8/8/2013).

Kebakaran hebat kembali terjadi pada Rabu (4/11/2026) malam menghanguskan 29 warung makan dan empat rumah warga. Kerugian akibat kejadian tersebut dilaporkan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkar) Berau mencapai ratusan juta rupiah.

Sekretaris Disdamkar Berau, Heri Irawan, mengungkapkan hidran yang tersedia di kawasan pasar tidak bisa dimanfaatkan untuk membantu proses pemadaman.

“Hidran tidak dapat dimanfaatkan, kondisinya rusak,” ungkap Heri.

Ditanggapi oleh Wakil Bupati Berau, Gamalis. Ia menyebut kerusakan bukan hanya pada fasilitas hidran, tetapi juga sejumlah jaringan pendukung yang membuat air tidak dapat dialirkan sebagaimana mestinya.

Menurut informasi yang diterimanya dari kepala pasar, hidran yang tersedia di dalam maupun luar kawasan pasar sudah tidak berfungsi dengan baik.

“Menurut informasi mereka, hidran itu sudah tidak dapat lagi berfungsi selayaknya sebuah hidran yang dapat menggunakan air. Karena beberapa jaringan hidran itu sendiri sudah rusak,” ujarnya, Kamis (05/11/2026).

Gamalis mengatakan persoalan tersebut tidak boleh berhenti pada perbaikan setelah kebakaran terjadi. Sebab, hidran merupakan fasilitas umum yang semestinya selalu siap digunakan ketika keadaan darurat.

Ia bahkan menyoroti kondisi selang dan jaringan hidran yang juga perlu diperiksa. Menurutnya, keberadaan fasilitas pemadam tidak cukup hanya tersedia secara fisik apabila tidak bisa digunakan saat dibutuhkan.

“Pasar-pasar harus diperbaiki. Hidran yang ada di sana harus diperbaiki, ditambah kalau perlu. Di dalam kan sudah ada, di dalam, di luar. Terkait dengan selang-selang juga harus diperbaiki,” katanya.

Selain hidran, persoalan lain yang disoroti adalah ketersediaan alat pemadam api ringan (APAR) di setiap kios. Gamalis menilai pedagang perlu memiliki alat pemadam awal agar api bisa ditangani sebelum membesar.

“Sebaiknya semua kios itu memiliki APAR. Biar kecil tapi ada. Di pasar juga, pada setiap stan itu harus ada APAR. Itu untuk pertolongan-pertolongan sebelum pemadaman,” tegasnya.

Gamalis menyebut pengadaan APAR dan perbaikan hidran akan menjadi salah satu prioritas dalam penyediaannya.

“Harus, itu salah satu prioritas saya kira terkait dengan pengadaan APAR dan hidran. Itu tadi saya bilang bahwa itu adalah fasilitas umum,” ungkapnya.

Ia juga berencana meninjau langsung kondisi pasar setelah menerima laporan kebakaran. Selain perbaikan fisik, Gamalis menilai pengelola pasar perlu mendapatkan edukasi penggunaan hidran agar fasilitas tersebut dapat difungsikan dengan benar.