KUTAI KARTANEGARA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Sanga-Sanga, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, hingga kini masih belum sepenuhnya padam. Luas area yang terbakar diperkirakan mencapai 304 hektare dan sebagian berada di kawasan lahan gambut.

 

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmatan) Kukar, Fida Husaini, mengatakan petugas masih melakukan pemadaman dan pendinginan di enam titik kebakaran.

 

Menurutnya, karakteristik lahan gambut membuat proses penanganan tidak bisa dilakukan secara cepat. Api dapat bertahan di bawah permukaan tanah sehingga meski api di permukaan telah padam, masih terdapat potensi munculnya kembali titik api.

 

“Untuk saat ini masih dalam tahap pemadaman. Karena sebagian lahan yang terbakar merupakan gambut, sehingga penanganannya memang membutuhkan waktu,” kata Fida saat dikonfirmasi, Selasa (25/8/2026).

 

Sekitar 100 personel dikerahkan untuk menangani karhutla tersebut. Mereka terdiri dari petugas Damkarmatan, relawan, PMI hingga personel dari perusahaan yang berada di sekitar lokasi.

 

Petugas tidak hanya melakukan pemadaman, tetapi juga penyekatan dan pemantauan untuk mencegah api merambat ke kawasan lain.

 

Fida memastikan operasi di lapangan masih terus berlangsung. Petugas juga melakukan pemantauan setelah proses pemadaman untuk mengantisipasi munculnya kembali api.

 

“Personel masih kita tempatkan di lapangan untuk melakukan pemadaman dan memastikan api tidak kembali menyala,” ujarnya.

 

Penyebab Masih Didalami

 

Terkait penyebab kebakaran, Fida mengatakan pihaknya belum dapat memastikan sumber api.

 

Berdasarkan informasi awal yang diterima petugas, terdapat dugaan kebakaran dipicu aktivitas warga maupun percikan api. Namun, dugaan tersebut masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

 

“Untuk penyebabnya masih kita dalami. Ada dugaan dari aktivitas warga dan percikan api, tetapi tentunya ini masih perlu dipastikan di lapangan,” jelasnya.

 

Di tengah proses penanganan, petugas juga menghadapi persoalan logistik. Salah satu kebutuhan yang mulai menipis adalah bahan bakar minyak (BBM) untuk mendukung mobilisasi personel dan kendaraan pemadam.

 

“Untuk kendala saat ini salah satunya logistik, terutama BBM yang mulai menipis,” ungkap Fida.

 

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena pemadaman karhutla di lahan gambut membutuhkan operasi yang berlangsung secara berkelanjutan.

 

Petugas harus terus bergerak dari satu titik ke titik lainnya untuk memastikan api benar-benar padam dan tidak kembali muncul dari bagian bawah lahan.

 

Fida menegaskan, meski menghadapi kendala, penanganan karhutla di Sanga-Sanga tetap dilakukan bersama seluruh unsur yang terlibat.

 

“Yang jelas kita masih melakukan pemadaman dan pemantauan. Kita tidak ingin api yang sudah dipadamkan kembali muncul dan meluas,” pungkasnya.