TANJUNG SELOR – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan Ramadan di sejumlah sekolah di Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, menuai keluhan dari sebagian orang tua siswa. Keluhan tersebut ramai diperbincangkan di media sosial karena dinilai porsi makanan terlalu sedikit, tidak layak, bahkan dibagikan sekaligus untuk beberapa hari.
Dalam unggahan yang beredar, seorang warganet mempertanyakan nilai paket makanan yang diterima siswa. “Kira-kira ada kah sampai Rp15 ribu,” tulisnya dalam pesan yang viral.
Akun lain, @Meiarlianita98, mengaku anaknya menerima pisang mentah, telur, roti, dan kacang hijau. Ia menyebut makanan tersebut disebut bubur, namun tidak berkuah. Ia juga menyinggung pembagian saat libur yang menurutnya tidak merata.
Namun, tidak semua orang tua memiliki pengalaman serupa. Akun @Rhanafatriah19 menyarankan agar orang tua memastikan langsung ke pihak sekolah. Ia menyebut anaknya menerima tiga kemasan terpisah dalam satu plastik berisi susu, roti, telur, kue basah, kurma, dan pisang.
Ia juga mengingatkan bahwa terkadang anak tidak membawa pulang makanan karena tidak menyukai menu yang diberikan.
Kepala SDN 006 Tanjung Selor, Yeni Marlina, membenarkan bahwa pada awal Ramadan paket MBG memang dibagikan untuk dua hingga tiga hari sekaligus.
“Informasi awal yang kami terima, selama Ramadan pembagian diambil dua sampai tiga hari. Menunya dalam bentuk makanan kering seperti susu, buah, dan roti. Itu dibungkus per hari, lalu tiga bungkus dijadikan satu kantong plastik,” jelasnya, Selasa (24/2).
Ia mengatakan, paket datang pagi hari dan dibagikan saat siswa pulang sekolah. Pihak sekolah juga melakukan pengecekan fisik sebelum makanan dibagikan.
Namun, pada hari yang sama, sekolah menerima laporan dari siswa nonmuslim yang mengonsumsi roti sebelum pulang dan mendapati teksturnya berlendir. Dari total 395 siswa, laporan tersebut langsung ditindaklanjuti.
“Kami segera menghubungi dapur penyedia sesuai prosedur dalam MoU. Saya juga langsung menginstruksikan melalui grup kelas agar roti tidak dikonsumsi. Untuk susu dan buah tetap boleh,” tegas Yeni.
Ia menambahkan, pihak sekolah memilih menyelesaikan persoalan tersebut melalui mekanisme internal tanpa langsung mempublikasikannya ke media sosial agar tidak menimbulkan kepanikan.
“Sejauh ini baru kejadian itu saja. Sebelumnya aman. Kami juga ikut makan, anak saya juga makan, tidak ada masalah,” katanya.
Yeni juga meluruskan informasi yang berkembang terkait anggaran Rp15 ribu per porsi. Menurutnya, dana yang benar-benar digunakan untuk bahan makanan siswa sebesar Rp10 ribu.
“Yang sampai ke anak itu Rp10 ribu. Sisanya untuk operasional dapur, seperti gaji pegawai dan biaya lainnya. Itu sudah sesuai kesepakatan dalam MoU,” jelasnya.
Sementara itu, Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional Bulungan, Andika Setiawan, memastikan menu MBG selama Ramadan tetap memenuhi standar gizi.
“Selama Ramadan bentuknya paket sehat. Karbohidrat diganti roti atau olahan singkong, proteinnya telur atau kacang-kacangan, buah tetap ada. Semua sudah dihitung nilai gizinya,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa pembagian tiga hari di awal Ramadan terjadi karena kesalahpahaman terhadap surat edaran. Seharusnya, paket dirapel hanya saat libur sekolah. Namun karena bahan makanan sudah terlanjur dipesan dan tidak bisa dibatalkan, paket tetap dibagikan.
“Sekarang sudah kembali normal, dibagikan per hari,” katanya.
Saat ini terdapat 12 dapur MBG yang beroperasi di Bulungan dan melayani sekitar 23 ribu penerima manfaat, termasuk siswa, ibu hamil, dan balita.
Pihak sekolah memastikan kondisi siswa yang sempat mengeluhkan makanan kini sudah membaik. Program MBG pun tetap berjalan dengan pengawasan yang lebih ketat, agar kualitas dan keamanan makanan benar-benar terjaga selama Ramadan. (Lia)

