TANJUNG SELOR – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Tanjung Harapan memprakirakan musim kemarau tahun 2026 di Kalimantan Utara (Kaltara) akan mencapai puncaknya pada Juli hingga Agustus. Secara umum, kondisi musim kemarau tahun ini diprediksi berada pada kategori normal, meski beberapa wilayah berpotensi mengalami curah hujan di bawah normal.

Forecaster BMKG Tanjung Harapan, Zenia, menjelaskan bahwa penentuan awal musim kemarau didasarkan pada kriteria curah hujan. Suatu wilayah dinyatakan memasuki musim kemarau jika curah hujan berada di bawah 50 milimeter dalam beberapa dasarian (periode 10 harian) berturut-turut.

“Secara umum, musim kemarau memiliki tiga fase, yakni awal musim, puncak musim, dan peralihan ke musim hujan. Penentuan ini mengacu pada data curah hujan yang terukur di setiap zona musim,” jelasnya, saat pres rilis, Rabu (29/4).

Berdasarkan analisis BMKG, dinamika atmosfer global tahun 2026 serta suhu permukaan laut di perairan Indonesia, termasuk Kaltara, turut memengaruhi pola musim. Untuk wilayah tertentu seperti Tanjung Palas Timur, musim kemarau bahkan sudah mulai terasa sejak Februari hingga Maret.

Sementara itu, wilayah Pulau Nunukan dan Sebatik masih berada dalam pola kemarau, meskipun pada April 2026 curah hujan di beberapa daerah masih tergolong rendah. Ada pula wilayah di Kaltara yang memiliki tipe hujan sepanjang tahun sehingga tidak mengalami kemarau secara signifikan.

BMKG mencatat sekitar 29 persen wilayah mengalami awal musim kemarau lebih cepat, yakni pada awal Januari, sementara sekitar 14 persen wilayah lainnya baru memasuki kemarau pada pertengahan Juni. Secara keseluruhan, musim kemarau 2026 diprediksi berlangsung normal, meski terdapat beberapa zona dengan curah hujan lebih rendah dari biasanya.

Untuk puncak musim kemarau, wilayah Bulungan dan Tarakan diperkirakan mengalaminya pada Juli, sedangkan Nunukan dan Malinau pada Agustus. Adapun Tanjung Palas Timur diprediksi mengalami penurunan curah hujan paling signifikan pada Agustus.

Durasi musim kemarau tahun ini juga diperkirakan lebih panjang, berkisar antara dua hingga empat bulan, terutama di wilayah Sebatik dan Tanjung Palas Timur.

BMKG mengingatkan bahwa musim kemarau berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta krisis air bersih. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini.

“Wilayah dengan sumber air diharapkan dapat menampung air sebanyak mungkin saat curah hujan masih terjadi. Selain itu, penting untuk menjaga sistem irigasi dan kebersihan lingkungan,” tambah Zenia.

Dalam 10 hari ke depan, BMKG memprediksi masih akan terjadi peningkatan curah hujan di sejumlah wilayah, meskipun di Bulungan curah hujan relatif kecil. Memasuki Mei, sebagian besar wilayah Kaltara diperkirakan mengalami curah hujan yang cenderung normal hingga sedikit lebih tinggi.

Lalu di Tambahkan, Kepala BMKG Tanjung Harapan, Abdul Haris Zulkarnaen, menegaskan bahwa informasi prakiraan musim sangat penting sebagai dasar pengambilan kebijakan di berbagai sektor, seperti pertanian, kehutanan, sumber daya air, penanggulangan bencana, hingga kesehatan masyarakat.

“Kami berharap seluruh instansi terkait dapat memperkuat koordinasi dalam menghadapi dampak musim kemarau, seperti kekeringan, karhutla, dan krisis air bersih, sehingga mitigasi dapat dilakukan secara tepat dan terarah,” ujarnya.

BMKG juga mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi resmi sebagai acuan dalam perencanaan aktivitas sehari-hari, terutama di wilayah yang rentan terhadap dampak musim kemarau. (Lia)