TANJUNG SELOR – Petani di Kabupaten Bulungan belakangan ini menghadapi kesulitan besar dalam musim panen padi tahun 2026. Serangan hama serta banjir yang datang secara bersamaan membuat banyak petani mengalami kerugian dan bahkan gagal panen.
Salah satu petani asal Desa Teras Baru, Riduansyah, mengatakan bahwa kondisi ini dirasakan hampir oleh semua petani di wilayahnya.
Sawah yang telah digarap dengan susah payah selama berbulan-bulan justru tidak menghasilkan padi seperti yang diharapkan.
“Hampir semua petani mengalami gagal panen tahun ini. Bukan hanya karena banjir, tapi juga karena serangan hama yang cukup parah,” ujarnya saat diwawancarai melalui telepon, Selasa (10/3).
Menurutnya, banjir yang terjadi di wilayah tersebut sebenarnya tidak terlalu besar sehingga dampaknya terhadap tanaman padi tidak terlalu signifikan.
Namun, serangan hama yang dikenal petani sebagai walang sangit justru menjadi penyebab utama menurunnya hasil panen.
Ia menjelaskan bahwa hama tersebut menyerang padi pada masa pertumbuhan hingga menjelang panen.
Akibatnya, banyak tanaman padi yang tampak normal dari luar, tetapi ketika dipanen ternyata bulirnya kosong dan tidak berisi.
“Hama padi ini sangat mengganggu pertanian. Kalau banjirnya kecil sebenarnya tidak terlalu berdampak. Tapi karena ada hama, banyak padi yang tidak berbuah atau kosong,” jelasnya.
Riduansyah juga menambahkan bahwa jika banjir yang datang cukup besar, maka hampir dipastikan petani akan mengalami gagal panen.
Namun pada musim ini, banjir yang terjadi relatif kecil, sementara serangan hama justru lebih merusak tanaman padi.
“Di sini banjirnya tidak terlalu besar. Kalau banjir besar pasti gagal panen. Tapi sekarang banyak yang gagal karena serangan walang sangit atau hama padi,” ungkapnya.
Dengan kondisi tersebut, para petani berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap masalah yang mereka hadapi.
Salah satu harapan petani adalah sentuhan yang pemerintah yang bisa memberikan dampak kepada petani ketika mengalami gagal panen.
“Kami tentu berharap pemerintah bisa membantu, karena petani sangat dirugikan jika panen gagal,” katanya.
Menanggapi keluhan para petani, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan, Kristiyanto, mengatakan bahwa pemerintah sebenarnya telah memiliki wacana untuk memberikan perlindungan kepada petani melalui program asuransi pertanian.
Menurutnya, program asuransi tersebut dirancang agar petani yang mengalami gagal panen dapat memperoleh penggantian atau bantuan dari pemerintah daerah.
“Sebenarnya ada wacana untuk asuransi bagi petani. Jadi apabila ada petani yang gagal panen, pemerintah daerah bisa memberikan penggantian,” jelasnya.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa rencana tersebut masih dalam tahap wacana dan memerlukan berbagai persiapan.
Salah satunya adalah koordinasi dengan berbagai pihak serta melihat kemampuan keuangan daerah.
Pemerintah juga masih perlu melakukan pemetaan dan survei untuk mengetahui berapa banyak petani yang berpotensi mendapatkan perlindungan dari program tersebut.
“Kami harus melihat kemampuan anggaran daerah terlebih dahulu. Selain itu, perlu juga dilakukan pemetaan dan survei agar program ini benar-benar tepat sasaran,” tambahnya.
Selain membahas soal asuransi, Dinas Pertanian juga memberikan beberapa saran kepada petani untuk menghadapi kondisi banjir yang sering terjadi, terutama di daerah persawahan pasang surut.
Kristiyanto menjelaskan bahwa banjir di daerah pasang surut sebenarnya merupakan fenomena alam yang sulit dicegah. Air pasang dan surut memiliki jadwal alami yang sudah terjadi sejak lama.
Karena itu, petani diharapkan dapat mengatur tata kelola air di lahan pertanian mereka dengan cara yang sederhana, misalnya dengan membuat saluran atau memasang pipa agar air dapat keluar dari sawah ketika banjir datang.
“Pengelolaan air sangat penting. Petani bisa membuat saluran atau menggunakan pipa agar air yang masuk ke sawah bisa cepat keluar,” jelasnya.
Selain itu, pemerintah daerah juga telah melakukan pemetaan terhadap wilayah yang sering mengalami banjir. Pemetaan ini bertujuan untuk menentukan daerah mana saja yang membutuhkan pembangunan tanggul penahan air.
Menurutnya, pembangunan tanggul banjir akan dilakukan secara bertahap melalui kerja sama dengan beberapa instansi, seperti dinas pekerjaan umum, pemerintah provinsi, serta Balai Wilayah Sungai.
Salah satu wilayah yang menjadi fokus pembangunan tanggul adalah kawasan Tanjung Buka yang sebagian besar merupakan area persawahan pasang surut.
“Sekitar 80 persen pembangunan tanggul direncanakan di wilayah Tanjung Buka. Sisanya berada di wilayah lain seperti Salimbatu,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pembangunan infrastruktur pengendalian banjir ini dilakukan secara bertahap setiap tahun, tergantung pada ketersediaan anggaran dan hasil koordinasi dengan pihak terkait.
Pemerintah berharap dengan berbagai upaya tersebut, risiko gagal panen akibat banjir dan hama dapat dikurangi di masa mendatang, sehingga petani tetap dapat memperoleh hasil panen yang baik dan kesejahteraan mereka dapat terjaga.
Lebih lanjut adanya wacana pemerintah menyiapkan asuransi Riduan menyambut baik jika pemerintah menyediakan asuransi bagi petani.
“Ya kita sambut baik, sehingga kerugian akibat gagal panen dapat sedikit tertutupi,” pungkas Riduan. (Lia)

