BERAU — Minimnya minat masyarakat untuk bertani menjadi salah satu persoalan yang memengaruhi sektor pertanian di Kabupaten Berau. Kondisi ini turut berdampak pada produksi pangan daerah yang masih belum mampu memenuhi kebutuhan secara mandiri.
Kabid Distribusi dan Cadangan Pangan Dinas Pangan Berau, Basri, mengungkapkan bahwa karakteristik petani di Berau berbeda dengan daerah lain seperti Pulau Jawa maupun Sulawesi.
Menurutnya, sebagian besar petani di Berau tidak fokus pada satu sektor saja, melainkan memiliki berbagai sumber penghasilan.
“Kalau di Jawa itu petani ya memang petani. Di Sulawesi juga begitu. Tapi kalau di Berau, masyarakatnya ini multidimensi. Dia bisa jadi petani, tapi juga beternak, berkebun, bahkan kerja di perusahaan,” ujarnya, Senin (4/5/26).
Kondisi tersebut, lanjutnya, membuat sektor pertanian di Berau kurang diminati sebagai pekerjaan utama. Banyak masyarakat, terutama usia produktif, lebih memilih bekerja di perusahaan yang dinilai lebih menjanjikan dari sisi pendapatan.
“Kita akui angkatan kerja kita kalah bersaing dengan perusahaan. Mereka lebih tertarik kerja di perusahaan dibanding mengolah lahan,” jelasnya.
Basri menilai faktor penghasilan menjadi pertimbangan utama. Pendapatan petani cenderung tidak menentu dan bergantung pada musim, berbeda dengan pekerjaan di sektor industri yang memberikan penghasilan tetap setiap bulan.
“Kalau di perusahaan kan setiap bulan jelas penghasilannya. Kalau petani ini berisiko, bisa gagal panen karena kekeringan atau kebanjiran,” katanya.
Ia juga membenarkan pandangan Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi, yang mendorong adanya langkah konkret untuk menarik minat generasi muda agar kembali ke sektor pertanian.
“Ya harus begitu, tidak ada cara lain. Memang harus dipacu untuk mendorong petani muda,” tegasnya.
Menurut Basri, regenerasi petani menjadi kunci penting untuk keberlanjutan sektor pangan di Berau. Namun, pendekatan yang dilakukan tidak bisa lagi dengan cara konvensional.
Ia menilai, petani masa kini harus dibekali dengan pengetahuan dan teknologi agar mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi.
“Petani itu harus ada kemajuan. Tidak hanya sekadar menanam, tapi juga ada sentuhan teknologi untuk meningkatkan hasil,” ujarnya.
Selain itu, dukungan berupa pelatihan, pendampingan, hingga insentif dinilai penting agar generasi muda tertarik menekuni sektor pertanian.
Dengan pendekatan yang lebih modern, Basri optimistis sektor pertanian di Berau bisa berkembang dan tidak lagi dipandang sebagai pekerjaan yang kurang menjanjikan.
“Kalau kita bisa dorong dengan teknologi dan sistem yang lebih baik, saya yakin anak muda bisa tertarik,” pungkasnya.

