Berau – Di setiap pembahasan mengenai pembangunan daerah, ada satu kekeliruan yang kerap berulang. Banyak orang berbicara tentang seperti apa wajah daerah yang ideal, tetapi jauh lebih sedikit yang membahas bagaimana fondasi menuju ke sana dibangun.

Membangun daerah, seperti membangun rumah, bukan hanya soal menggambar desain yang indah. Dibutuhkan bahan yang kuat, tenaga kerja yang terampil, pembiayaan yang memadai, dan keberanian mengambil keputusan ketika tantangan datang.

Di sisi lain, kritik memang penting sebagai pengingat arah. Namun pelaksana kebijakan di lapangan dihadapkan pada kenyataan yang jauh lebih kompleks: keterbatasan anggaran, birokrasi yang panjang, kualitas sumber daya manusia yang belum merata, hingga tuntutan masyarakat yang terus berkembang.

Karena itu, persoalan terbesar pembangunan bukanlah perbedaan pandangan antara pengkritik dan pemerintah. Musuh sesungguhnya adalah kebuntuan—ketika ekonomi melambat, investasi berjalan di tempat, lapangan kerja semakin sempit, dan pemerintah hanya sibuk mempertahankan keadaan tanpa keberanian melakukan terobosan.

Berau hari ini masih bertumpu pada sektor pertambangan, perkebunan, dan belanja pemerintah. Ketiga sektor tersebut memang menjadi penopang ekonomi daerah selama bertahun-tahun. Namun ketergantungan terhadap sektor primer menyimpan risiko besar. Harga komoditas selalu berfluktuasi, kapasitas fiskal pemerintah memiliki batas, sementara jumlah pencari kerja terus bertambah setiap tahun.

Apabila pola pembangunan tidak berubah, lima hingga sepuluh tahun ke depan tekanan terhadap ekonomi daerah diperkirakan akan semakin besar. Karena itu, Berau memerlukan mesin pertumbuhan ekonomi baru, bukan sekadar menambah daftar program pembangunan.

Salah satu peluang terbesar adalah hilirisasi sawit berbasis masyarakat. Selama ini sebagian besar hasil sawit masih keluar sebagai bahan baku sehingga nilai tambah dinikmati daerah lain. Berau memiliki peluang mendorong lahirnya industri minyak goreng lokal, pakan ternak berbahan limbah sawit, pupuk organik, hingga biomassa dan energi terbarukan. Hilirisasi tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi komoditas, tetapi juga membuka ribuan lapangan kerja baru.

Potensi lain yang belum dimaksimalkan adalah sektor pariwisata. Selama ini perhatian publik lebih banyak tertuju pada kawasan Kepulauan Derawan. Padahal Berau memiliki bentang alam, budaya, sungai, hutan tropis, hingga kekayaan kuliner yang tersebar hampir di setiap kecamatan. Apabila setiap wilayah mampu mengembangkan satu destinasi unggulan berbasis masyarakat, manfaat ekonomi tidak hanya dirasakan pelaku usaha besar, tetapi juga pedagang kecil, nelayan, petani, hingga pelaku UMKM.

Di sisi lain, kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN) seharusnya dipandang sebagai pasar ekonomi baru, bukan ancaman. Berau memiliki peluang memasok kebutuhan pangan, hasil perikanan, produk perkebunan, jasa konstruksi, tenaga kerja terampil, hingga paket wisata akhir pekan. Tantangannya bukan pada ada atau tidaknya peluang, melainkan kesiapan daerah membangun ekosistem usaha yang mampu menjadi bagian dari rantai pasok IKN.

Pembangunan infrastruktur juga perlu bergeser dari pendekatan fisik menuju pendekatan produktif. Jalan, pelabuhan, maupun fasilitas publik semestinya diukur dari dampaknya terhadap penurunan biaya distribusi, peningkatan investasi, serta penciptaan lapangan kerja. Infrastruktur yang tidak menghubungkan sentra produksi dengan pasar hanya akan menjadi aset fisik tanpa nilai tambah ekonomi yang signifikan.

Demikian pula dengan investasi. Keberhasilan tidak cukup diukur dari besarnya nilai investasi yang masuk. Yang lebih penting adalah berapa banyak tenaga kerja lokal yang terserap, seberapa besar keterlibatan UMKM, serta seberapa panjang rantai ekonomi yang tercipta bagi masyarakat.

Berangkat dari kondisi tersebut, Berau memerlukan arah pembangunan jangka panjang yang lebih terintegrasi melalui gagasan “Berau Growth 2035”. Konsep ini menempatkan lima prioritas utama sebagai mesin pertumbuhan ekonomi daerah, yakni hilirisasi sawit dan pertanian, pariwisata berbasis komunitas, integrasi ekonomi dengan IKN, pembangunan infrastruktur produktif, serta investasi padat karya yang melibatkan UMKM.

Tujuan akhirnya bukan semata mengejar angka pertumbuhan ekonomi, melainkan menciptakan lapangan kerja yang lebih luas, menjaga daya beli masyarakat, melahirkan kelas menengah baru, dan secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap sektor ekstraktif.

Pada akhirnya, Berau tidak kekurangan gagasan maupun orang-orang yang mampu mengidentifikasi persoalan. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengubah arah ketika pola pembangunan lama mulai kehilangan daya dorong.

Dengan kekayaan sumber daya alam, posisi strategis di Kalimantan Timur, serta peluang yang lahir dari pembangunan IKN, masa depan Berau sesungguhnya masih sangat terbuka. Pertanyaannya bukan lagi apakah Berau mampu maju, melainkan apakah seluruh pemangku kepentingan berani membangun mesin ekonomi baru yang mampu menghadirkan pekerjaan, meningkatkan pendapatan, dan memberi harapan bagi lebih banyak keluarga di Bumi Batiwakkal.(*)