BERAU – Dalam beberapa tahun terakhir, nama Mupit Datusahlan semakin sering muncul dalam berbagai ruang diskusi publik, mulai dari isu pembangunan desa, kepemudaan, pendidikan, keagamaan hingga politik daerah.

Pria yang dikenal sebagai akademisi, aktivis organisasi kepemudaan, mantan kepala kampung, sekaligus pengusaha tersebut dinilai memiliki perjalanan yang berbeda dibanding banyak figur politik muda lainnya di Kabupaten Berau.

Berangkat dari latar belakang keluarga sederhana di kampung, Mupit menempuh pendidikan tinggi hingga meraih gelar magister. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia memilih kembali mengabdi di daerah dan terlibat langsung dalam pembangunan masyarakat.

Pengalamannya sebagai kepala kampung memberikan pemahaman yang kuat terhadap persoalan riil masyarakat, mulai dari infrastruktur desa, pertanian, perkebunan, pendidikan hingga pemberdayaan ekonomi warga.

Tidak hanya aktif dalam pemerintahan desa, Mupit juga dikenal aktif dalam organisasi kepemudaan dan keagamaan, khususnya di lingkungan Gerakan Pemuda Ansor dan Nahdlatul Ulama.

Belakangan, namanya mulai dikaitkan dengan munculnya generasi baru kepemimpinan daerah yang dianggap mampu menjembatani kalangan muda, tokoh agama, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat akar rumput.

Masuknya Mupit dalam lingkaran pengembangan politik di Partai Solidaritas Indonesia semakin memperluas ruang pengabdiannya. Partai tersebut saat ini menjadi salah satu kekuatan politik nasional yang mendapat perhatian publik setelah bergabungnya sejumlah tokoh nasional, termasuk Joko Widodo dalam struktur pembinaannya.

Sejumlah pengamat lokal menilai, kekuatan utama Mupit bukan semata-mata pada posisi politik yang dimilikinya, melainkan pada kemampuannya membangun komunikasi dengan berbagai kelompok yang selama ini sering berjalan sendiri-sendiri.

“Figur seperti ini relatif jarang. Dia bisa diterima di kalangan aktivis, organisasi keagamaan, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat desa sekaligus,” ujar salah satu tokoh masyarakat Berau.

Di tengah perubahan besar Kalimantan Timur sebagai wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara, muncul kebutuhan akan pemimpin-pemimpin daerah yang tidak hanya memahami politik, tetapi juga memahami pembangunan, investasi, sumber daya manusia, dan transformasi ekonomi daerah.

Bagi sebagian masyarakat, Mupit Datusahlan mungkin masih berada pada tahap awal perjalanan politiknya. Namun bagi mereka yang mengikuti perkembangan daerah, namanya mulai disebut sebagai salah satu figur yang berpotensi memainkan peran lebih besar dalam pembangunan Berau dan Kalimantan Timur pada masa mendatang.

“Pemimpin masa depan tidak lahir dalam satu malam. Ia dibentuk oleh perjalanan, pengabdian, jaringan, dan kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun,” demikian pandangan yang kini mulai melekat pada sosok Mupit Datusahlan.