BERAU, it-news.id – Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Berau mengungkapkan informasi awal yang diterima dari manajemen PT Kertas Nusantara terkait insiden ledakan yang terjadi di kawasan perusahaan. Berdasarkan keterangan tersebut, lokasi ledakan berada di area bekas tumpukan batu bara dan sisa kapur buangan hasil produksi yang berjarak sekitar 600 hingga 700 meter dari area utama pabrik.

Namun, informasi tersebut masih berupa keterangan awal dari pihak perusahaan dan belum dapat dipastikan sebelum dilakukan investigasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup yang memiliki kewenangan melakukan pengawasan.

PT Kertas Nusantara merupakan perusahaan industri pulp dan kertas yang berlokasi di Kampung Mangkajang, Kecamatan Sambaliung, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Perusahaan ini sebelumnya dikenal sebagai PT Kiani Kertas yang dibangun pada era 1990-an sebagai salah satu pabrik kertas terbesar di Indonesia.

Kepala DLHK Berau, Zulkifli Azhari, mengatakan pihaknya belum melakukan investigasi lapangan maupun pengambilan sampel karena pengawasan dan penanganan insiden lingkungan tersebut merupakan kewenangan pemerintah pusat.

Setelah menerima informasi mengenai kejadian itu, DLHK Berau langsung berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Timur untuk menyampaikan laporan sekaligus meminta arahan terkait langkah yang dapat dilakukan.

“Begitu ada kejadian, kami langsung berkoordinasi dengan bidang pengawasan dan menghubungi DLH Provinsi. Kami sudah menyampaikan laporan, termasuk dokumentasi yang kami terima. Sampai sekarang kami masih menunggu arahan dari kementerian,” ujarnya kepada it-news.id, Kamis (30/7/2026).

Zulkifli menjelaskan, meskipun insiden terjadi di wilayah Kabupaten Berau, DLHK tidak dapat langsung melakukan pemeriksaan di lokasi tanpa adanya penugasan dari pemerintah pusat. Menurutnya, setiap tindakan pengawasan harus dilakukan sesuai kewenangan dan memiliki dasar hukum yang jelas.

“Peralatan ada, tetapi pengambilan sampel juga harus berdasarkan penugasan. Kalau tidak ada mandat dari kementerian, kami tidak memiliki kewenangan untuk melakukannya,” jelasnya.

Ia menambahkan, informasi mengenai lokasi ledakan diperoleh setelah berkomunikasi dengan manajemen PT Kertas Nusantara. Berdasarkan penjelasan yang diterimanya, area yang terdampak merupakan lokasi penumpukan sisa batu bara yang sudah tidak digunakan sekitar 12 tahun serta sisa kapur buangan dari proses produksi.

“Manajemen menyampaikan kepada kami bahwa yang terbakar merupakan sisa tumpukan batu bara yang sudah tidak digunakan sekitar 12 tahun serta sisa kapur buangan dari proses produksi. Informasi yang kami terima juga menyebutkan tidak ada korban jiwa,” ungkapnya.

Meski demikian, Zulkifli menegaskan keterangan tersebut masih merupakan informasi awal dari pihak perusahaan dan belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan penyebab ledakan maupun dampak lingkungan yang ditimbulkan.

“Itu baru informasi awal dari pihak perusahaan. Penyebab maupun dampak lingkungannya tetap harus menunggu hasil investigasi dari kementerian,” pungkasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, upaya tim it-news.id untuk memperoleh konfirmasi dari manajemen PT Kertas Nusantara terkait kronologi kejadian maupun penyebab pasti ledakan belum mendapat tanggapan.